Hilangnya Gumuk-Gumuk di Jember Utara Akibat Penambangan Pasir dan Batu

Manusia tak dapat dipisahkan dengan konsep bahwa memilki nafsu yang tinggi. Untuk dapat memenuhi nafsunya tersebut maka, manusia melakukan apapun agar dapat mencapai kepuasan. Terutama nafsu untuk bisa menguasai alam. Alam tak dapat dipisahkan dengan manusia dan mahkluk hidup, sehingga kompen-komponen ini haruslah berjalan secara beringan agar keselarasan hidup dapat terwujud. Oleh karena itu manusia haruslah selalu tetap menjaga kelestarian alam. Namun fakta memperlihatkan hal yang berbeda, melainkan disebabkan karena nafsu manusia sangat tinggi sehingga wacana tersebut jauh dari kenyataan.

Keinginan dan kebutuhan adalah dua hal yang berbeda. Dimana kita sebagai manusia haruslah memprioritaskan diantara salah satu dari keduanya, dalam hal ini kebutuhan. Kebutuhan merupakan sesuatu yang harus segera dipenuhi, sedangkan keinginan tidak begitu penting dan mendesak tidak perlu dipenuhi. Kaitan dengan hal ini ialah kekayaan dan penguasaan atas sumberdaya alam. Kita ketahui bersama bahwa, manusia saat ini melakuakan ekploitasi secara besar-besaran terhadap alam. Dengan tujuan untuk dapat memenuhi keinginannya untuk hidup sejahtera dan kaya. Sehingga berbagai cara akan ditempuh oleh manusia untuk dapat mencapai kekayaan dan kejayaan hidup yang diinginkan. Meskipun tidak sediit bahwa perilaku tersebut akan merugikan orang lain, terlebih dampaknya terhadap lingkungan.

Ada banyak jenis kerusakan-kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh manusia saat ini, namun disini peneliti akan terfokus pada hilangnya gumu-gumuk (bukit) yang ada diwilayah kabupaten Jember khususnya di Jember utara. Perlu diketahui bahwa, dahulunya wilayah kabupaten Jember mendapat julukan “negeri seribu gumuk”. Hal itu karena memang didukung dan faktanya menunjukkan bahwa, di wilayah jember ini tersebar ribuan gumuk-gumuk di setiap daerah di wilayah ini. Namun fakta berbeda untuk hari ini, banyak gumuk0gumuk telah rata dengan tanah.

Gumuk-gumuk yang ada ini digunduli pohonnya terlebih dahulu, kemudian dilakukakkannya perataan tanah, sehingga tanah gundukan yang menjulang tinggi tersebut hialng dan rata dengan tanah. Segala bentuk tersebut merupakan akibat dari keserakahan manusia untuk dapat memperoleh pundi-pundi rupiah. Sehingga ekosistem yang ada di gumuk-gumuk tersebut hilang dan menjadi rata dengan tanah. Hal lain yang dilakukan dengan lahan tersebut ialah dibangunnya perumahan dan bangunan-bangunan lainyya untuk dimanfaatkan oleh sipemilki lahan tersebut. Namun sesungguhnya gumuk-gumuk tadi , dapat dimanfaatkan untuk ditanami pohon dan tanam-tanamnan yang bermanfaat lainnya, akan tetapi manusia ingin meperoleh uang secara cepat sehinga gumuk-gumuk yang ada di jual tanah gundukannya sampi rata dengan tanah.

Penerapan teori kemungkinan, berkeyakinan bahwa lingkungan memilki sifat yang relatif artinya pada saat tertentu lingkungan berperan penting dalam menjelaskan kecocokan dengan budaya tertentu, tetapi pada sisi lain lingkungan tidak cocok dengan budaya tertentu itu. (Susilo, 2009). Sifat relatif dari lingkungan ini sangat ditentukan oleh dua faktor lain. Pertama, intensitas interaksi antara manusia dengan lingkungan. Kedua, bentuk kebudayaan yang dominan dalam masyrakat.

Pada masyrakat di wilayah jember utara ini, merpaka mayoritas madura yang kental sekali dengan budaya yang keras. Sehingga dengan hal itu telah terkonstruk masyarakatnya yang pemberani. Dan dapat melaykan apa saja demi memperoleh yang diinginkannya. Jika kita berfokus pada peran manusia dalam lingkangan, dalam hal ini sangatlah menjadi amat penting. Karena manusia mengambil bagian yang sangat penting dalam pengelolaan lingkungan. Seharusnya manusia dapat dapat menjalankan tugasnya sebagai khalifah dimuka bumi dengan sebaik mungkin. Namun fakta menunjukkan hal yang sebaliknya, banyak dari manusia yang hidupnya serakah dan melakukan apapun demi untuk mendapatkan kekayaan.

Jika kita merujuk pada proses penggundilan hutan dan penemabangan pasir maupun batu-batu yang ada digumuk ialah kaitannya dengan industri pertambangn. Industri pertambangan merupakan salah satu industri yang diandalkan pemerintah Indonesia untuk mendatangkan devisa. Selain mendatangkan devisa industri pertambangan juga menyedot lapangan kerja dan bagi Kabupaten dan Kota merupakan sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD). Industri pertambangan selain mendatangkan devisa dan menyedot lapangan kerja juga rawan terhadap pengrusakan lingkungan. Banyak kegiatan penambangan yang mengundang sorotan masyarakat sekitarnya karena pengrusakan lingkungan, apalagi penambangan tanpa izin yang selain merusak lingkungan juga membahayakan jiwa penambang karena keterbatasan pengetahuan si penambang dan juga karena tidak adanya pengawasan dari dinas instansi terkait. (Yudhistira, 2011)

Salah satu indikator kerusakan lingkungan adalah erosi. Erosi adalah proses berpindahnya tanah atau batuan dari satu tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah akibat dorongan air, angin, atau gaya gravitasi. Proses tersebut melalui tiga tahapan, yaitu pelepasan, pengangkutan atau pergerakan, dan pengendapan. Bahaya erosi banyak terjadi di daerah-daerah lahan kering terutama yang memiliki kemiringan lereng sekitar 15 % atau lebih . Keadaan ini sebagai akibat dari pengelolaan tanah dan air yang keliru, tidak mengikuti kaidah-kaidah konservasi tanah dan air dan tanah. Dampak utama erosi terhadap pertanian adalah kehilangan lapisan atas tanah yang subur, berkurangnya kedalaman lahan, kehilangan kelembapan tanah dan kehilangan kemampuan lahan untuk menghasilkan tanaman yang menguntungkan.

Secara keseluruhan terdapat lima faktor yang menyebabkan dan mempengaruhi besarnya laju erosi yaitu iklim, tanah, topografi vegetasi penutup tanah dan kegiatan manusia. Faktor iklim yang paling menentukan adalah hujan yang dinyatakan dengan nilai erosivitas hujan. Besar kecilnya laju erosi banyak tergantung kepada sifat-sifat tanah yang dinyatakan sebagai faktor erodibilitas tanah yaitu kepekaan tanah terhadap erosi.

Berkurangnya Ketersediaan Air

Daerah wilayah Jember utara merupakan daerah tangkapan air bagi daerah dibawahnya. Dengan adanya lokasi penambangan pasir yang tidak mengindahkan konservasi tanah dan lahan dibuktikan dengan tingginya tingkat bahaya erosi yang terjadi menyebabkan besarnya air larian pada permukaan tanah sehingga kemampuan lahan untuk menampung air berkurang. Hal ini dikeluhkan oleh warga yang mengaku air yang ada di kolam dan mata air menyusut, padahal air sangat dibutuhkan warga yang memanfaatkannya untuk keperluan sehari-hari.

Perubahan Struktur Tanah

Tingginya erosi yang terjadi di lokasi penambangan pasir akan menyebabkan hanyutnya partikel-partikel tanah dan sangat berpengaruh terhadap struktur tanah. Struktur tanah remah akan berubah menjadi struktur polyder atau terlepas. Struktur tanah seperti ini menyebabkan rendahnya produktivitas hasil pertanian karena lahan tidak mengandung koloit tanah. Koloit tanah berfungsi sebagai perekat partikel-partikel tanah mendorong peningkatan stabilitas struktur tanah.

Penurunan Kapasitas Penyerapan Air Tanah

Sedangkan banyaknya air yang masuk melalui permukaan tanah persatuan waktu dikenal sebagai laju infiltrasi. Nilai laju infiltrasi sangat tergantung pada kapasitas infiltrasi, yaitu kemampuan tanah untuk melewati permukaan tanah secara vertical. Rusaknya struktur tanah oleh erosi di daerah lokasi penambangan pasir di desa Keningar, akan menyebabkan mengecilnya pori-pori tanah, sehingga kapasitas infiltrasi menurun, dan aliran permukaan menjadi lancar. Hal ini dapat menyebabkan banjir dan longsor.

 

Hilangnya Bahan Organik Tanah

Penambangan pasir di wilayah Jembver utara yang tidak mengindahkan konservasi tanah dan lahan, akan menyebabkan erosi yang di ikuti hilangnya bahan organik tanah dan pemadatan tanah. Hal ini menyebabkan berkurangnya air permukaan atau air hujan yang masuk ke dalam tanah. Akibatnya hujan yang jatuh dengan mudah terakumulasi dipermukaan. Kehilangan unsur hara karena adanya erosi di lokasi penambangan pasir desa Keningar, akan menurunkan produktivitas lahan. Hal ini membahayakan bagi lingkungan di desa Keningar maupun desa sekitarnya.

 

Analisis Pengetahuan Masyarakat Tentang Lingkungan Hidup

Berdasarkan hasil penelitian tentang responsi masyarakat serta persepsi masyarakat terhadap lingkungan, dapat maka dapat diketahui bahwa sebagian besar masyarakat paham mengenai lingkungan hidup secara umumnya dan juga paham mengenai pentingnya lingkungan hidup yang terpelihara secara lestari. Adanya persepsi pengetahuan tentang lingkungan hidup tersebut dikarenakan masyarakat pedesaan akrab dengan lingkungannya terutama karena kebutuhan mereka akan lahan sebagai sumber kehidupan mereka yang sebagian besar petani/ buruh tani. Ironisnya eksploitasi sumberdaya alam tanpa dibarengi dengan pelestariannya akan menyebabkan rusaknya lingkungan sekitarnya. Sehingga persoalan lingkungan yang sangat mengganggu kelestarian alam yang berbias menjadi keresahan warga masyarakat sekitarnya.

 

Persepsi Masyarakat Tentang Penambangan Pasir.

Pengetahuan masyarakat secara umum tentang kegiatan penambangan pasir bahwa mereka dapat menerima penambangan pasir karena merupakan mata pencaharian atau pekerjaan bagi masyarakat penambang. Mereka melihat bahwa penambangan pasir memberikan manfaat sebagai pekerjaan pokok atau pekerjaan sampingan bagi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pekerjaan tersebut memberikan hasil setiap hari bagi penambang pasir guna memenuhi kebutuhan hidup sehari hari. Kegiatan penambangan pasir selain memberikan manfaat langsung dari aktifitas penambangan juga membuka peluang kerja bagi buruh baik sebagai tukang coker , jaga malam pencatat angkutan material pasir serta berdagang makanan. Peyerapan tenaga kerja yang paling banyak hádala tukang coker atau buruh perata pasir. Besarnya upah buruh coker Rp 10.000,- sampai dengan Rp. 12.000,- per truk dan setiap orang dapat memperoleh giliran 2 – 3 kali jika bekerja sebagai tukang coker saja. Sebagian penduduk ada yang bekerja sambilan sebagai tukang coker sepulang bekerja sebagai petani atau buruh tani. Tetapi secara umum kebanyakan profesi tukang coker ditangani kelompok pemuda.

 

Dampak Lingkungan Kegiatan Penambangan Pasir

Penambangan Pasir tidak hanya memberikan keuntungan dan manfaat tetapi juga menimbulkan permasalahan. Kegiatan penambangan pasir yang menggunakan alat berat yang berfungsi untuk mengeruk material yang berada di dataran maupun di dinding tebing menimbulkan permasalahan ekologis dan sosial bagi lingkungan sekitar. Dampak lingkungan dari kegiatan penambangan pasir di Desa Sumberwringin di bedakan menjadi dampak fisik dan dampak sosial ekonomi.

 

Dampak Fisik Lingkungan

Dampak fisik lingkungan dengan adanya kegiatan penambangan pasir di Desa Sumberwringin adalah sebagai berikut:

  1. Tingginya tingkat erosi di daerah penambangan pasir dan juga didaerah sekitarnya.
  2. Adanya tebing-tebing bukit yang rawan longsor karena penambangan yang tidak memakai sistem berteras sehinggaa sudut lereng menjadi terjal dan mudah longsor.
  3. Berkurangnya debit air permukaan/ mata air
  4. Tingginya lalu lintas kendaraan di jalan desa membuat mudah rusaknya jalan.
  5. Terjadinya polusi udara.

 

Dampak Sosial Ekonomi Masyarakat

Berdasarkan wawancara dengan beberapa narasumber dapat diketahui dampak sosial ekonomi yang terjadi dengan adanya kegiatan penambangan pasir

  1. Pengurangan jumlah pengangguran karena sebagian masyarakat bekerja menjadi tenaga kerja di penambangan pasir, baik sebagai pengawas, buruh tambang, penjual makanan dan minuman .
  2. Adanya pemasukan bagi pemilik tanah yang dijual atau disewakan untuk diambil pasirnya dengan harga tinggi. Tanah yang semula tidak menghasilkan menjadi bermanfaat karena dipakai untuk penambangan pasir.
  3. Banyaknya pendatang yang ikut menambang sehingga dapat menimbulkan konflik.
  4. Adanya ketakutan sebagian masyarakat karena penambangan pasir yang berpotensi longsor sehingga sewaktu-waktu bisa mengenai lahan dan pemukiman mereka, apalagi bila turun hujan .

dari beberapa tindakan dari masyrakat tersebut, maka banyak gumuk-gumuk yang ada di wilayah Jember uatar ini semakinj tergerus keberadaannya sehingga dapat menibmbulkan efek-efek yang lebih besar lagi. Semisal tidak seimbangnya angin, rentan akan terjadinaya angin putting beliung. Perlu diberikannya kapasitas dan kemampuan kepada masyrakat untuk terus tetap menjaga lingkunbgan

 

 

KESIMPULAN

Kegiatan penambangan pasir di wilayah Jember utara menimbulkan dampak terhadap lingkungan yaitu dampak fisik dan dampak sosial ekonomi. Dampak fisik lingkungan yaitu adanya tebing-tebing bukit yang rawan longsor, kurangnya debit air permukaan/ mataair, rusaknya jalan.polusi udara. Dampak sosial ekonomi penyerapan tenaga kerja karena sebagian masyarakat bekerja menjadi tenaga kerja di penambangan pasir, adanya pemasukan bagi pemilik tanah yang dijual atau disewakan untuk diambil pasirnya dengan harga tinggi, banyaknya pendatang yang ikut menambang sehingga dapat menimbulkan konflik. adanya ketakutan sebagian masyarakat karena penambangan pasir yang berpotensi longsor sehingga sewaktu-waktu bisa mengenai lahan dan pemukiman mereka, apalagi bila turun hujan.

 

DAFTAR PUSTAKA

Susilo, R. K. (2009). Sosiologi Lingkungan. Jakarta: Rajawali Pers.

Yudhistira. (2011). KAJIAN DAMPAK KERUSAKAN LINGKUNGAN AKIBAT KEGIATAN PENAMBANGAN PASIR DI DESA KENINGAR DAERAH KAWASAN GUNUNG MERAPI. JURNAL ILMU LINGKUNGAN Volume 9, Issue 2: 76-84 (2011), 9.

 

 Artikel ini ditulis oleh departemen Penelitian dan Keilmuan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close