Merespon Ancaman Lost Generation

Generasi  penerus merupakan aspek vital penopang eksistensi suatu negara. Mereka akan menjadi pemegang tonggak estafet kepemimpinan. Indonesia sebagai negara yang memiliki generasi penerus dengan kuantitas tinggi.

Berdasarkan data Badan Pusat Stastistik (BPS), pada tahun 2010 angka proyeksi penduduk Indonesia menurut umur 0-17 tahun mencapai 81.141.400 jiwa. Penduduk kelompok umur tersebut, diprediksikan mencapai umur produktif  pada tahun 2025- 2035. Apabila umur produktif tinggi, implikasinya dapat menanggung umur non produktif. Perlu diketahui pada tahun 2010  rasio ketergantungan (Dependency Ratio) penduduk  Indonesia yakni 50,5%. Sedangkan tahun 2035 diprediksikan rasio ketergantungannya adalah 47,3%. Data ini menjadi dasar prediksi Indonesia akan menikmati bonus demografi dalam kurun waktu  tahun 2020-2035. Bonus demografi akan mendorong kemajuan negara.

Menurut Wongboonsin (2003), dalam paparan kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional Prof. dr. Fasli Jalal, PhD, SpGK di Univeritas Undayana Provinsi Bali. Mengartikan bonus demografi (demographic dividen) sebagai keuntungan ekonomis yang disebabkan oleh menurunnya sebuah rasio ketergantungan sebagai hasil penurunan fertilitas jangka panjang. Fartilitas disini bisa dikatakan sebagai kemampuan riil seoarang wanita untuk melahirkan. Jadi bonus demografi adalah tingginya rasio penduduk umur produktif dibanding usia non-produktif.

Prediksi adanya bonus demografi di Indonesia masih didasarkan pada aspek kuantitas terutama ratio umur produktif dan non produktif. Tetapi belum dilengkapi dengan analisis mendalam kualitas kelompok umur produktif. Maka perlu kiranya dianalisis dari aspek kualitas. Sebab potret eskalasi dekadensi moral dan penyimpangan sosial generasi bangsa. Cerminan keduanya  dengan maraknya  sex pra nikah, aborsi, kasus HIV/ AIDS, miras dan narkoba. Implikasinya menyebabkan pelemahan kualitas generasi. Jika pelemahan tersebut benar-benar terjadi, maka umur produktif belum jaminan menjadi kelompok produktif.

Disadari atau tidak, saat ini Indonesia mengalami pelemahan generasi bangsa. Implikasinya menciptakan generasi hilang (lost generation). Generasi hilang adalah kelompok penerus yang tidak memiliki kualitas dan daya saing global. Sehingga mereka mudah dikalahkan dalam kontestasi / persaingan. Ciri-ciri kongkrit lost generation yakni bertambahnya pecandu narkoba, seks di luar nikah, dan pergaulan bebas.  Dengan aktivitas tersebut, mereka tidak mempunyai daya saing yang memadai. Rasionalitasnya tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Bahkan mereka mengabaikan nilai dan norma lokal

Kondisi tersebut bukan hanya untuk dibayangkan dan dikhawatirkan, tetapi untuk ditemukan solusinya. Salah satu solusinya dengan membentuk new social movement. New Social Movement adalah organisasi sosial baru yang diinisiatif oleh anggota masyarakat untuk berperan menangani permasalahan sosial yang semakin kompleks. Pembentukan new social movement melibatkan partisipasi masyarakat. Diharapkan new social movement mampu menumbuhkan kesadaran masyarakat terhadap permasalahan sosial yang mengancam esksistensi bangsa. Selain itu juga meningkatkan kapasitas dan kapabilitas generasi bangsa. Sehingga mereka menjadi kelompok produktif.

New sosial movement melakukan intervensi sosial dengan menerapkan metode praktik  pekerja sosial. Tahap-tahap intervensi meliputi identifikasi masalah, analisis masalah, perencanaan treatment, treatment/implementasi, evalusi, dan terminasi. Intervensi sosial juga memperhatikan prinsip self determination, acceptance, dan partisipatif. Selain itu kelompok sasaran tidak dianggap sebagai subjek, bukan objek.

New social movement  menjadi solusi efektif merespon ancaman lost generation,  asalkan terjalin sinergitas berbagai pihak. Tanpa sinergisitas, new social movement hanyalah gerakan bersifat temporal dan mengalami kegagalan. Oleh karena itu, mari bersinergi merespon adanya lost generation.  Sehingga bonus demografi benar-benar dinikmati bangsa Indonesia tahun 2020-2035.

 

Artikel ini ditulis oleh Ketua Umum BEM FISIP UNEJ Periode 2018, Nur Kholis (Kesejahteraan Sosial 2015)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close