[ FISIP MENULIS ]

Where Justice Lies?

oleh

Afcalia Anggraeni ( Administrasi Negara 2017 )

Beberapa bulan terakhir ini, dunia terutama Amerika Serikat digemparkan dengan protes masyarakat atas isu rasisime dan brutalitas polisi khususnya pada orang-orang berkulit hitam, kerusuhan ini bermula di Minneapolis pada 26 Mei 2020, setelah kematian George Floyd yang terjadi saat penangkapannya oleh petugas Departemen Kepolisian Minneapolis (MPD). Isu tetang brutalitas polisi di Amerika memang sudah lama mencuat namun kembali memanas setelah munculnya kasus kematian lelaki berkulit hitam tersebut. Singkat cerita, George Floyd adalah seorang lelaki berusia 46 tahun yang baru saja kehilangan pekerjaannya sebagai pelayan disebuah restoran akibat pandemi Covid 19. Pada dasarnya George Floyd memang memiliki catatan kriminal sejak sebelum pindah ke Minneapolis, namun pada saat terjadi penangkapan polisi tidak mungkin mengetahui rekam jejak George dan penangkapannya tersebut murni berdasarkan pada Racial profiling yang berarti tindakan mencurigai atau menargetkan seseorang dari ras tertentu berdasarkan karakteristik atau perilaku yang diamati serta diasumsikan dari ras dan kelompok etnik tertentu dalam kasus ini adalah ras kulit hitam, bukan pada kecurigaan individu.

Kronologi kasus George Floyd. Berawal pada 25 Mei 2020 malam hari, George memarkir mobilnya disebrang sebuah mini market untuk membeli sebungkus rokok, namun kemudian dua pelayan mini market mendatangai mobil George karena mereka menerima uang palsu dari George pada saat ia membayar rokoknya, dua karyawan ini meminta George untuk mengembalikan rokok tersebut namun lelaki berkulit hitam dan bertubuh tegap itupun menolak karena ia merasa sudah membayar. Selanjutnya kedua karyawan mini market tersebut menelfon 911 sebagai layanan panggilan darurat di Amerika, dua karyawan ini mengatakan kepada polisi bahwa George tidak bisa dikendalikan, ia mabuk dan kemudian polisi datang ke tempat kejadian. Memang terkadang di Amerika terdapat orang-orang yang menggunakan racial profiling dalam kepolisian, jadi dalam kasus George bisa saja sebenarnya dia tidak mabuk dan tak terkendali seperti yang dilaporkan dua karyawan kepada polisi.

Saat polisi datang di tempat kejadian George sedang duduk di dalam mobilnya, kemudian salah satu anggota polisi langsung menodongkan senjata tajam ke arah George menyuruhnya keluar mobil dan langsung diborgol. Berdasarkan pada video yang banyak tersebar di media sosial terlihat jelas bahwa George ini sangat tenang tidak memberontak pada saat digelandang polisi keluar dan membawanya untuk masuk ke dalam mobil polisi namun George menolak karena ia memiliki phobia atau ketakutan dengan ruangan sempit. Kemudian, perdebatan antara George dengan anggota polisi mulai terjadi sampai pada akhirnya salah satu polisi menarik George sampai terjatuh ke aspal, ketika Georga terjatuh ketiga anggota polisi tersebut mulai menindih George dibagian leher, dada dan betisnya. Hal tersebut yang menyebabkan George berkali-kali mengucapkan bahwa dia tidak bisa bernapas “please please” “please I can’t breathe” “please man” “please somebody” etc. Namun polisi tersebut tetap menindih George dengan lututnya sampai George tidak sadarkan diri dan kehilangan nyawanya.

Terdapat dua pendapat berdeda tentang kematian George, yang pertama adalah pendapat dari tim forensik yang menyatakan bahwa George meninggal karena keracunan akibat mengkonsumsi metamfetamin atau obat stimulan sistem saraf pusat yang biasa digunakan untuk mengobati gangguan hiperaktif (ADHD) sesaat sebelum polisi datang yang kemudian menyebabkan hipertensi, jadi kesimpulan pada pendapat pertama adalah George sudah memiliki masalah kesehatan sebelumnya. Dan pendapat yang kedua berasal dari Tim Autopsi Independen yang disewa oleh keluarga George Floyd menyatakan bahwa George meninggal akibat sesak napas pada saat tubuhnya ditindih oleh polisi yang menyebabkan tekanan pada leher yang kemudian memutus aliran darah ke otak dan tindihan pada bagian punggung menyebabkan ia susah beranapas, Tim Autopsi Independen mengkonfirmasi bahwa George tidak memiliki riwayat masalah pada kesehatan dan tidak menemukan riwayat penggunaan narkoba mapun alkohol.

Setelah kematian George ini diumumkan timbullah kemarahan publik bukan saja dari masyarakat kulit hitam tapi seluruh masyarakat dunia mengecam isu rasisme dan tindakan brutalitas polisi tersebut, semua orang meminta pertanggungjwaban atas kematian George Floyd oleh oknum kepolisian. Kasus kematian George ini tentu saja bukan yang pertama terjadi di Amerika, sebelumnya sudah terdapat ratusan kasus orang kulit hitam yang harus kehilangan nyawanya karena berbagai macam alasan konyol dan sepele karena isu rasisme dalam penegakan hukum di Amerika. Terdapat perbedaan perlakuan polisi terhadap orang kulit hitam dengan orang kulit putih, yang mana orang kulit putih akan lebih diperlakukan secara manusiawi dibandingkan dengan mereka yang berkulit hitam. Munculnya kemarahan publik dan demo besar-besaran di Amerika Serikat menuntut sebuah keadilan dan perlindungan hukum bagi mereka orang kulit hitam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close