[ FISIP MENULIS ]

Toleransi, Kunci Memaknai Hari Keadilan Internasional

oleh

Himaistra

  • Sejarah Hari Keadilan Internasional

Setiap tahunnya, tanggal 17 Juli diperingati sebagai Hari Keadilan Internasional atau World Day for International Justice. Penetapan tanggal 17 Juli sebagai Hari Keadilan Internasional berangkat dari diadopsinya Statuta Roma oleh komunitas internasional pada tanggal yang sama, tiga puluh tahun yang lalu.

Statuta Roma merupakan salah satu perjanjian internasional yang paling penting dalam sejarah peradaban manusia. Pada tanggal 17 Juli 1998, perwakilan dari 148 negara menghadiri pertemuan diplomatik di Roma, Italia, untuk membahas tentang masalah internasional yang sangat mendesak kejahatan internasional. Hasil pembahasan tersebutlah yang kemudian dituangkan dalam Statuta Roma sebuah traktat yang menjabarkan bentuk-bentuk kejahatan internasional, sekaligus mandat untuk mendirikan Mahkamah Pidana Internasional (International Criminal Court).

  • Pengimplementasian Nilai-Nilai Keadilan

Pengimplementasian nilai-nilai keadilan dapat mencerminkan sikap yang mewujudkan suatu kehangatan dalam kehidupan dengan rasa kebersamaan, menjaga keseimbangan hak dan kewajiban, kegotong-royongan, serta tidak merugikan orang lain. Dalam definisinya, keadilan adalah suatu nilai (value) yang digunakan untuk menciptakan hubungan yang seimbang antar manusia dengan memberikan apa yang menjadi hak seseorang dengan prosedur dan pembagian yang proporsional (procedural and distributive).

Terdapat indikator-indikator yang harus dilakukan untuk mewujudkan keadilan dalam kehidupan yang berperikemanusiaan. Indikator pertama adalah mengembangkan perbuatan-perbuatan yang luhur yang mencerminkan sikap kekeluargaan dan kegotong-royongan. Perbuatan yang luhur adalah suatu tindakan yang mulia yang dilakukan oleh setiap manusia, baik dalam etika, estetika, sifat, tata asusila, dan perilaku-perilaku lainnya. Dengan menerapkan perbuatan yang luhur akan mewujudkan suatu kehidupan yang berdasarkan nilai-nilai kebaikan yang dapat memberikan manfaat yang baik pada manusia lainnya. Sikap kekeluargaan adalah suatu tindakan atau perbuatan yang dilakukan berdasarkan asas  kekeluargaan (musyawarah). Penerapan sikap kekeluargaan/musyawarah harus dilakukan dalam pengambilan-pengambilan keputusan untuk kepentingan bersama karena dengan sikap musyawarah ini, pengeambilan keputusan yang dilakukan tidak akan menimbulkan rasa tidak keadilan atau berat sebelah pada pihak tertentu sehingga dapat memberikan dampak positif yang sama pada semua pihak. Mengenai kegotong-royongan, secara definisi gotong royong adalah bentuk kerjasama untuk mencapai suatu tujuan yang sama. Dengan menerapkan sikap gotong royong dalam kehidupan, segala sesuatu yang dilakukan akan menjadi lebih mudah dan daripada itu hasil yang didapatkan dari kegotong-royongan dapat dirasakan bersama sehingga kehidupan yang adil dapat terlaksanakan.

Indikator kedua adalah mengembangkan sikap adil terhadap sesama. Adil adalah suatu sikap yang bebas dari diskriminasi, ketidakjujuran, dan keegoisan. Sikap adil terhadap sesama harus diterapkan dalam kehidupan dengan manusia lainnya karena dengan menunjukkan sikap adil dan melakukan perbuatan adil tidak akan menimbulan ketimpangan-ketimpangan yang merugikan manusia lainnya. Implementasi dari sikap adil dapat dilakukan dengan tidak membeda-bedakan manusia lainnya dari segi ekonomi, politik, pekerjaan, gender, dan lainnya. Memiliki prinsip jujur terhadap manusia lainnya juga akan mewujudkan suatu kehidupan yang harmonis dalam bermasyarakat. Kejujuran akan menimbulkan rasa untuk tidak bersikap egois terhadap manusia. Dalam hal ini, seseorang yang berpegang teguh terhadap nilai-nilai kejujuran tidak akan bertindak secara egois dalam berperilaku sehingga dengan nilai kejujuran dan ketidakegoisan yang dicerminkan tidak akan menimbulkan suatu perbuatan yang hanya mementingkan diri sendiri saja sehingga keadilan dalam kehidupan bermasayarakat dapat terlaksanakan.

Indikator ketiga adalah menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban. Menurut Prof. Dr. Notonagoro, hak adalah kuasa untuk menerima atau melakukan suatu yang semestinya diterima atau dilakukan melulu oleh pihak tertentu dan tidak dapat diterima atau dilakukan oleh pihak lain manapun juga yang pada prinsipnya dapat dituntut secara paksa olehnya. Sedangkan kewajiban adalah sesuatu keseharusan yang wajib dilaksanakan oleh siapapun, apabila tidak dilaksanakan akan mendapatkan sanksi. Hak dan kewajiban harus berjalan berdampingan karena keduanya memiliki keterkaitan yang cukup erat. Dengan melaksanakan kewajiban-kewajiban kita, maka hak-hak kita akan juga terpenuhi. Kesadaran atas hak dan kewajiban harus dimiliki oleh setiap individu karena dengan menyadari serta melakukan masing-masing hak dan kewajibannya maka kebutuhan dirinya serta manusia lainnya dapat tepenuhi sehingga keadilan sosial dapat terwujud dalam kehidupan sehari-hari.

Indikator keempat adalah toleransi. Secara definisi, toleransi adalah sebuah sikap yang menghormati serta menerima setiap perbedaaan yang ada, baik agama, budaya, pendapat, ras, warna kulit, dan lainnya. Sikap toleransi yang apabila dimiliki oleh setiap manusia dapat mewujudkan suatu keadilan serta keharmonisan kehidupan bermasayakarat. Dengan menghormati sertama menerima perbedaan yang ada, setiap individu akan merasa nyaman dalam menjalani segala aktivitas yang dilakukan, misalnya dalam kegiatan spritiual, kegiatan kebudayaan, cara berpakaian, dan lainnya. Tuhan menciptakan perbedaan-perbedaan yang ada di dunia tidaklah tanpa adanya maksud dan makna yang terkandung. Perbedaan-perbedaan itu ada tidak semata-mata ada begitu saja, melainkan perbedaan itu hadir dari buah pemikiran manusia, yang di mana pemikiran-pemikiran manusia ini juga merupakan kehendak dari Yang Maha Kuasa. Maka dari itu, dengan menghormati serta menerima perbedaan yang ada, berarti kita menghormati dan menerima segala kehendak yang telah Tuhan tetapkan. Tidak dapat disangkal lagi bahawasannya sikap toleransi ini merupakan suatu sikap yang harus dimiliki oleh seluruh umat manusia dalam mewujudkan suatu kehidupan yang berkeadailan.

  • Menjunjung Tinggi Toleransi, Sebagai Bentuk Tindakan Keadilan

Pada kenyataannya berita – berita ketidakadilan, kekerasan, dan intoleransi  baik nasional maupun internasional masih sering terjadi dan mewarnai makna hari keadilan internasional itu sendiri. Seperti halnya masalah rasisme yang terjadi di Amerika Serikat yang baru – baru ini sedang hangat diperbincangkan dimana terdapat perlakuan diskriminatif antara warga kulit hitam dan kulit putih. Permasalahan seperti ini telah tercatat di sejarah rasisme di Amerika yang sudah sering terjadi sedari dulu hingga saat ini.  Bahkan tak hanya kasus rasisme yang terjadi di masyarakat, sejarah rasisme di Amerika juga mencatat beberapa kasus pelanggaran rasial yang dilakukan oleh aparat kepolisian. Karena  kasus rasisme ini telah berulang kali terjadi di Amerika Serikat sehingga berdampak pada kesenjangan beberapa golongan baik di bidang ekonomi, pendidikan, maupun kesehatan di Amerika Serikat. Masalah Isu sosial ini bagaikan sebuah api yang terus menyala sejak lama dan sangat rentan menyulut kerusuhan dan kegelisahan bagi masyarakat Amerika.

Masaalah rasisme yang terjadi dan menyebabkan meninggalnya pria kulit hitam, George Floyd pada 25 Mei lalu menjadi salah satu cerita baru dalam sejarah rasisme di Amerika yang berakhir tragis. George Floyd meninggal setelah seorang polisi kulit putih menginjak lehernya dengan lutut di Kota Minneapolis, Amerika. Polisi menangkap George Floyd berdasarkan laporan seorang karyawan toko atas penggunaan uang palsu oleh Floyd. George Floyd berkali-kali mengutarakan bahwa ia tak bisa bernafas saat polisi menahannya dengan lutut di leher George  Floyd. Beberapa lama setelah kejadian tersebut George Floyd berhenti bergerak. Sebuah ambulans kemudian membawa George Floyd ke rumah sakit untuk penangan medis namun sayangnya nyawa George Floyd tidak sempat terselamatkan.

Mengutip dari sebuah artikel berjudul “Sejarah Rasisme di Amerika” yang ditulis Intifanny  Amandar dinyatakan bahwa berdasarkan laporan harian The New York Times sejumlah kesenjangan yang terjadi di Kota Minneapolis dapat terjadi karena beberapa faktor. Hal yang sangat jelas adalah umumnya keluarga-keluarga kulit hitam di Kota Minneapolis tinggal di kawasan-kawasan permukiman yang kondisinya relatif kurang baik. Kondisi ini sangat berbanding terbalik dengan warga berkulit putih secara umum. Beberapa profesi termasuk pertugas kepolisian di Kota Minneapolis pun didominasi oleh warga kulit putih. Kepolisian di Kota Minneapolis pun kerap kali dituduh melakukan praktik rasis selama beberapa dekade. Pihak kepolisian pun diyakini sangat jarang mendisiplinkan petugas-petugas dengan catatan bermasalah. 

Menanggapi masalah tersebut tanpa memperdulikan kondisi pandemi yang terjadi berbagai demonstrasi dan kampanye pun dilakukan masyarakat Amerika untuk kembali menegakkan keadilan. Mereka menyuarakan rasa frustrasi dan kegelisahan yang mereka rasakan selama bertahun-tahun atas ketidaksetaraan dan kurangnya rasa toleransi. Akhirnya, Wali Kota Minneapolis, Jacob Frey, berjanji akan berusaha memperbaiki hubungan antara polisi dan masyarakat.

Dari kejadian tersebut tentu harus dijadikan pembelajaran bagi kita semua, khususnya Indonesia. Di Indonesia sendiri praktek  rasisme ataupun intoleransi juga masih sering terjadi. Seperti halnya yang sering menimpa saudara – saudara kita dari Papua. Karena pada dasarnya  Indonesia adalah negara yang  multikultural dengan beragam  suku, ras, dan  agama  sehingga tidak menutup  kemungkinan akan terjadinya  pertentangan  –  pertentangan  yang  berbau  rasial.  Sebagai  bangsa  yang  majemuk, Indonesia  memiliki  tantangan  tersendiri  dalam menjaga persatuan.  Oleh  karena  itu,  kesadaran  kolektif  dari  setiap  individu  agar  tetap  menjujung  tinggi nilai toleransi dan  senantiasa  menghargai   perbedaan  suku,  ras,   dan  agama sangatlah  diperlukan. Indonesia harus bisa memetik pelajaran dari kasus rasisme yang terjadi di Amerika dengan tidak melakukan hal–hal diskriminatif yang mengarah pada perpecahan demi tetap terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia sesuai pengamalan  nilai–nilai dalam pancasila.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close