[ FISIP MENULIS ]

Anak Kampung yang Kembali Terjajah

Oleh

Mulyaning Putri Agustiyan

Aku hanyalah seorang anak kampung, lahir jauh dari gemerlap perkotaan dengan segala kebahagiaan semunya, pinggiran kota tempat ibuku mengejan tepat berada di dekat bukit, ladang dan persawah yang asri. Menurut tutur nenekku, aku dengan lantang menangis seolah ingin mengatakan bahwa aku bangga telah lahir di bumi Indonesia. Sedari masih dalam rahim, seolah keluargaku menanamkan rasa cinta terhadap negeri ini, saat tubuh mungilku mulai berkembang aku banyak mendengarkan tentang kecantikan negara Indonesia yang disamakan dengan berkembangnya paras wanitaku, namun pada saat itu aku merasa kesal bagaimana lautan samudera sering disebut sebagai mataku dan rimbunnya hutan diandaikan sebagai rambutku. Nenekku juga sering mengatakan bahwa Indonesia sangatlah kaya bak perhiasan, jepitan, kepintaran dan pengetahuan yang ada di tubuhku.

Saat aku beranjak dewasa, aku tetaplah gadis kampung. Namun pada saat ini aku memiliki banyak teman, cukup pengetahuan dan aku memberanikan diri untuk menempuh pendidikan tinggi di kota. Tak banyak juga lelaki mendekatiku karena kecakapan yang aku miliki. Pada saat itu akupun sadar, jika dahulu nenek membandingkan Indonesia dengan diriku, kemolekanku kalah dengan mempesonanya negeriku, Indonesia. Pada saat itu juga aku merenungkan betapa banyaknya negara yang ingin memiliki negeriku ini, merenggut kecantikannya hingga digantikan dengan tangisan dan rintihan dari rakyatnya yang dipaksa bekerja dan diambil hasil keringatnya.

Nenekku juga merupakan pendongeng yang hebat, ingatannya bagaikan ujung tombak yang selalu diasah, semangat berceritanya bagaikan api yang berkobar disertai peluh di keningnya. Dari nenekku lah aku mengetahui semua cerita bumiku Indonesia, sisi gelap harus banyak ku dengarkan sambil menelan ludah pahit yang tak sebanding dengan pahitnya penderitaan yang diperoleh rakyat Indonesia saat “terjajah”.

Nenekku tak berhenti bercerita bahwa negaraku ini seolah digilir kesuciannya oleh negara penjajah. Mulai dari tahun 1509 saat mendaratnya negara Portugis di Maluku. Kemudian diambil alih oleh Negara Belanda pada tahun 1602-1942. Bahkan kepemilikan negeriku menciptakan sebuah perjanjian yaitu perjanjian Kalijati pada 8 Maret 1942 antara Negara Belanda dan Negara Jepang. Disitulah terjadi peralihan kekuasaan, penjajahan negeriku diambil alih oleh Jepang.

Awal mula Jepang hadir, bak pahlawan kesiangan yang membodohi Indonesia dengan empel empel pelindung dan penyelamat penjajahan ini. Walaupun lamanya hanya seumur jagung, namun penderitaan yang dirasakan oleh rakyat Indonesia sangatlah pedih. Penindasan dimana mana, untuk kaum laki-laki diberlakukan sistem Romusha dengan cara mempekerjakan dengan paksa, banyak sekali rakyat yang meninggal karena kelelahan beserta dengan kekerasan yang dilakukan oleh Jepang. Terjadi juga tanam paksa yang mengharuskan rakyat menanam dan hasilnya diberikan kepada pihak Jepang. Selain itu pembatasan pers di Negara Indonesia sehingga Indonesia dijadikan sebagai boneka bodoh yang tidak boleh mendapatkan informasi apapun.

Namun nasib berkata lain. Golongan muda pada saat itu Sutan Syahrir mendengar kabar bahwa Negara Jepang menyerah pada sekutu pada perang dunia kedua, yaitu tepat pada dibomnya kota Hirosima dan Nagasaki. Mendengar kabar itulah golongan muda mendesak golongan tua agar secepatnya memproklamasikan kemerdekaan. Namun Jepang terus mempengaruhi golongan tua agar menunggu kemerdekaan dari Jepang yang pada akhirnya terjadi peristiwa Rengasdengklok. Peristiwa diculiknya Soekarno dan golongan tua lainnya menuju desa bernama Rengasdengklok, hal ini dilakukan agar golongan tua tidak terpengaruh oleh rayuan Jepang lagi dan mendesak agar segera mengambil tindakan atas kejadian Vacum of Power di Indonesia, dan segera mengumandangkan seruan “Merdeka” di negeri ini.

Pada akhirnya proklamasi dikumandangkan pada tanggal 17 Agustus 1945 oleh bapak kita Ir. Soekarno didampingi oleh Moch. Hatta. Saat itu juga masyarakat Indonesia terbebaskan dan dengan semangat melontarkan seruan serentak “Merdeka”. Indonesia bahagia, begitu juga dengan nenekku yang pada saat itu masih berumur 6 tahun, ikut berteriak dengan sangat lantang kata “Merdeka”.

Mulai saat itu kemerdekaan Indonesia selalu dirayakan dengan meriah oleh Negara ini. Pada tanggal 17 Agustus selalu dirayakan upacara bendera, karnaval dan berbagai lomba. Aku sangat antusias apabila sudah memasuki bulan agustus. Riuh kampung ini sangat membahagiakan, aku sangat ingat dahulu aku banyak memenangkan lomba antar kampung. Juara 1 lomba menangkap ikan, juara 1 lomba balap karung, aku memang tergolong anak yang lincah dan selalu ceriah terlebih bulan Agustus.

Namun bulan Agustus tahun ini sangatlah berbeda. Aku merasa “terjajah kembali” seperti berabad abad tahun silam. Tetapi lebih kejam penjajahku di era sekarang ini. Perayaan kemerdekaan tidak lagi diadakan di kampungku, yaa.. kampungku terasa bukanlah kampungku lagi. Semua penyebabnya adalah wabah yang tidak terlihat dan menjajah seluruh Negara di dunia. Wabah Covid-19 ini menyebabkan perubahan di seluruh sendi kehidupan, perubahan tatanan dan perubahan peraturan. Tidak dibolehkannya berkerumun mengakibatkan keputusan tidak diadakannya karnaval, pemangkasan personil upacara bendera dan yang paling mengejutkan, tidak diadakannya lomba agustusan antar kampung, yang serasa membelah nuraniku. Hanya kenangan yang dapat mengingatkanku berapa banyaknya darah bertumpah untuk memperjuangkan kemerdekaan, dan betapa bahagianya rakyat Indonesia saat dikumandangkannya kemerdekaan.

Sumber:

Rinardi, Haryono. 2017. Proklamasi 17 Agustus 1945: Revolusi Politik Bangsa Indonesia. Jurnal Sejarah Citra Lekha. 2(1). hlm. 143-150.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close