Forum Diskusi & Sharing Kekerasan Berbasis Gender

Suasana saat kegiatan forum diskusi & sharing berlangsung

 

Forum diskusi yang diselenggarakan oleh Dept. Pemberdayaan Perempuan dan Dept. Sosial Masyarakat ini berlangsung di Ruang Kuliah 107 FISIP UNEJ pada hari Kamis, 7 Juni 2018 pukul 14.00 WIB. Diskusi yang mengambil tema Kekerasan berbasis gender ini mengundang Christina Sitorus yang merupakan koordinator pendamping kasus di Garwita Institute sebagai pematik diskusi.

Dalam diskusi ini, penulis akhirnya sadar bahwa masih banyak orang yang belum bisa membedakan perbedaan antara gender dan sex. Gender sendiri merupakan konstruk sosial budaya yang memandang dalam segi karakteristik seperti maskulin atau feminim. Sedangkan sex merupakan alat kelamin yang merupakan bawaan sejak lahir, contohnya seperti penis dan vagina. Karena dengan perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan saat ini, sejak kebebasan berpendapat terbuka secara luas tidak sedikit perempuan maskulin maupun laki-laki feminim. Dan apakah itu salah? Bagi penulis, tidak karena itu terkait kebebasan berekspreksi. Ketika laki-laki sering kali dianggap tidak pantas jika bersolek atau bahkan menggunakan pakaian berwarna pink (warna yang dekat dengan image perempuan), pihak yang melihat hal ini sebagai ketidakwajaran adalah masyarakat. Karena konstruk dari masyarakat membuat laki-laki harus tampil maskulin dengan warna warna lelaki seperti hitam, biru dongker dan warna-warna jantan lainnya. Contoh lainnya seperti perempuan yang dekat dengan sifat emosional, lemah lembut, dan sensitif sedangkan laki-laki dengan sifat rasional, kuat tegas, dan tidak peka. Sulit memang memisahkan perempuan dan laki-laki dengan sifat-sifat yang melekat tersebut, namun yang perlu ditegaskan adalah sifat-sifat itu bukan merupakan kodrat seperti laki-laki berpenis dan perempuan bervagina. Bukan tidak mungkin ada perempuan yang rasional, tegas dan kuat.

Christina sitorus sebagai pematik diskusi

Dikotomi antara sifat dan karakter dari perempuan dan laki-laki inilah yang sering kali menjadi akar kekerasan berbasis gender. Belum lagi perlu disadari bahwa masyarakat kita masih kendal dengan budaya patriarki. Dalam KBBI sendiri, patriarki adalah perilaku mengutamakan laki-laki daripada perempuan dalam masyarakat atau kelompok sosial tertentu. Sederhananya masyarakat kita masih memandang laki-laki sebagai pihak yang yang superior diatas perempuan yang inferior. Pandangan ini tentu saja tidak dimiliki oleh laki-laki, tak jarang justru perempuan juga ikut mempertahankan akar patriarki. Contohnya adalah kasus yang dialami Via Vallen ketika ia dilecehkan oleh seorang pemain sepak bola melalui DM instagramnya. Via Vallen bukannya dibela dan didukung secara emosional, malah ada beberapa pihak yang mengatakan bahwa dia justru beruntung karena dilirik oleh pemain sepak bola yang kebetulan bukan kebangsaan Indonesia. Komentar-komentar ini malah berasal dari perempuan sendiri, miris sebenarnya namun inilah produk patriarki.

Sedangkan apakah Kekerasan berbasis gender itu sendiri? IASC / Inter-Agency Standing Committee mendefinisikan Kekerasan Berbagis Gender sebagai Terminologi payung untuk semua tindakan membahayakan yang dilakukan di luar kehendak orang tersebut yang didasarkan atas perbedaan peran laki-laki dan perempuan. Ada beberapa bentuk kekerasan berbasis gender, antara lain : (1) seksual (2) fisik (3) Praktek tradisional yang membahayakan (4) sosial ekonomi and (5) emosional dan psikologis. Korban kekerasan berbasis gender tidak seluruhnya perempuan, laki-laki juga berpotensi menjadi korban namun jumlahnnya memang tidak sebanyak perempuan. Alasan mengapa perempuan banyak menjadi korban ada pada paragraf sebelumnya, yaitu budaya patriarki. Tidak sedikit laki-laki yang melihat bahwa perempuan merupakan objek baik secara fisik maupun seksual, maka ketika perempuan sudah menjalin hubungan dengan laki-laki akhirnya laki-laki merasa memiliki dan merasa bisa melakukan segalanya pada perempuan. Karena perempuan masih dianggap berada di posisi dibawah laki-laki. Bentuk-bentuk dari kekerasan berbasis gender sendiri tidak hanya pemerkosaan, pemukulan, penganiayaan, atau berbentuk kekerasan fisik. Bentuk-bentuk lain yang mungkin kita tidak sadari merupakan kekerasan adalah intimidasi dan catcalling. Catcalling merupakan hal yang dianggap wajar namun sejatinya adalah pelecehan, contohnya seperti godaan atau panggilan ketika berada di ruang publik seperti “Hei Cantik”, “Hei seksi, kenalan dong”, dan bentuk-betuk lainnya. Dianggap sebagai pelecehan karena membuat korban merasa tidak nyaman atau risih, hal ini juga berkemungkinan si korban merasa trauma secara emosional dan psikologis.

Pematik diskusi, Christina sitorus bersama pengurus BEM FISIP UNEJ dan peserta diskusi

Catatan yang penulis rasa perlu digarisbawahi adalah perempuan dan laki-laki harus berada di posisi yang setara, tidak boleh ada anggapan bahwa perempuan sudah kodratnya untuk menjadi warga kelas kedua sedangkan laki-laki berada di atasnya. Seorang laki-laki bahkan membantah bahwa laki-laki tidak bisa ikut perperan dalam kesetaraan gender, yaitu Michael Kimmel seorang sosiolog asal Amerika. Ia memberikan semua alasan dan fakta mengapa kesetaraan gender juga baik untuk laki-laki. Kesetaraan gender menurut realitanya baik untuk negara, perusahaan, laki-laki, anak-anak, dan perempuan. Maka saat ini sudah tidak ada alasan para laki-laki untuk menolak kesetaraan gender. Lebih lengkapnya dapat dilihat di video ini. Sedangkan perempuan sendiri, juga harus melihat bahwa dirinya memang pantas dan juga bisa mendapat hak dan kesempatan yang sama seperti laki-laki.

 

Penulis Opini : Fitria Wulan Sari, Dept Komunikasi dan Informasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close