MAKING MALANG CITY 4.0 : Strategi Kota Malang Menghadapi Era Revolusi Industri 4.0


disusun oleh Muhammad Mufli, Universitas Brawijaya


Essay ini merupakan Juara 2 di Lomba National Online Essay Writing Competition 2018 yang diselenggarakan oleh BEM FISIP UNEJ

LATAR BELAKANG

Revolusi Industri 4.0? istilah tersebut sedang berkembang dalam beberapa tahun terakhir dan pertanda bahwa sektor industri telah memasuki era baru diabad millennium1. Berbagai penemuan mutakhir yang high technology telah telah diciptakan oleh manusia untuk membantu otomatisasi industri yang menuntut untuk semakin efisien. Istilah Revolusi industri 4.0 dipopulerkan oleh Jerman dan telah mendunia. Revolusi industri 4.0 ditandai dengan pemanfaatan teknologi informasi seperti Internet of Things (IoT), kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), teknologi robotik dansensor kedalam machine production system. Peran teknologi informasi menjadi lebih dominan dalam menciptakan otomatisasi industri dan efisiensi dalam proses produksi. (Morrar, Hasan dan Saeed, 2017)

Semangat Revolusi Industri 4.0 terus mengglobal dan negara-negara dituntut agar mampu beradaptasi dalam era tersebut, termasuk Indonesia. Indonesia merupakan salah satu negara berkembang didunia. Struktur ekonomi Indonesia ditopang oleh berbagai sektor salah satu-nya industri pengolahan2. Pemerintah Indonesia telah mengambil langkah dalam menghadapi era baru revolusi industri 4.0 melalui Roadmap Revolusi Industri 4.03. Output dari Roadmap Revolusi Industri 4.0 adalah mewujudkan Indonesia menjadi top 10 negara dengan kekuatan ekonomi terbesar didunia pada tahun 2030. Untuk mewujudkan output tersebut, pemerintah pusat mendorong partisipasi aktif pemerintah daerah melalui revitalisasi sektor yang sejalan dengan konsep Revolusi Industri 4.0.

1Era revolusi industri dimulai pada tahun 1750-1850 melalui penemuan mesin uap di Inggris Raya yang menjadi titik awal modernisasi industri. Era revolusi industri 1.0 cukup bertahan lama hingga pada abad 20, dunia kembali memasuki revoluasi industri 2.0 yang ditandai dengan mass production. Perkembangan industri menjadi semakin dinamis, saat produksi mulai terotomatisasi melalui penggunaan mesin elektronok dan teknologi informasi. Interval waktu yang dibutuhkan untuk menciptakan revolusi industri 3.0 lebih cepat dari sebelumnya. (Rifkin, 2011)

2Industri pengolahan menjadi salah satu sektor yang dominan dalam menopang PDB dan banyak menyerap tenaga kerja di Indonesia. Kontribusi sektor industri terhadap PBD Nasional mencapai 30% dari total seluruh ektor. Pertumbuhannya mencapai 5,67% serta serapan tenaga kerja mencapai 14,11 persen atau sebanyak 17,92 juta orang dari total angkatan kerja di Indonesia. (BPS Indonesia, 2017)

3Implementasi road map tersebut dimulai dari pengembangan lima sektor industri pengolahan yaitu makanan dan minuman, tekstil dan pakaian, otomotif, kimia, dan elektronik. (Kementrian Perindustrian, 2018)

Salah satu daerah yang berpotensi dalam menghadapi era Revolusi Industri 4.0 adalah Provinsi Jawa Timur khususnya Kota Malang melalui semangat Making Malang City 4.0. Making Malang City 4.0 merupakan upaya dalam mewujudkanpartisipasi aktif pemerintah daerah dalam mendukung dan menyukseskan Road Map Indonesia 4.0. Kota Malang merupakan kota terbesar kedua di Jawa Timur setelahKota Surabaya. Komposisi penduduk kota malang didominasi oleh kelompok usia produktif (15-49 Tahun) yakni 67% dari total penduduk Kota Malang. Serta mayoritas penduduk kota malang adalah mahasiswa yang mencapai sekitar 33% dari total penduduk Kota Malang (Barenlitbang, 2017). Selain itu, Kota Malang memiliki pola pertumbuhan industri yang unik, dimana sebagian besar industrinya disokong oleh sektor industri kecil dan mikro berbasis ekonomi kreatif. Data dari Bank Indonesia dalam Barenlitbang (2017), rata-rata pertumbuhan ekonomi Kota Malang sejak tiga tahun berada pada level 7% pertahun.

PEMBAHASAN

Strategi Kota Malang dalam Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Making Malang City 4.0 akan melibatkan beberapa stakeholders sepertilembaga penerintah, pendidikan, dan pelaku usaha. Pemerintah sebagai regulator, lembaga pendidikan sebagai pencetak sumber daya manusia unggul dan pelaku usaha sebagai actor pelaku industri. Sehingga diperlukan strategi-strategi dalam implementasi Making Malang City 4.0 yaitu sebagai berikut:

  1. Arek Ngalam 4.0

Arek Ngalam 4.0 merupakan gagasan untuk mendorong peningkatan kualitassumber daya manusia lokal. Kota Malang dikenal sebagai kota pendidikan, tentu memiliki lembaga pendidikan yang berkualitas untuk mencetak sumber daya manusia terampil dan berdaya saing. Upaya yang diperlukan adalah membangun link and match antara antara lembaga pendidikan dan industri. Tujuannya adalah agar sumber daya manusia yang dihasilkan seseuai dengan kompetensi yang dibutuhkan oleh industri. Upaya link and match tersebut dapat dilakukan oleh lembaga pendidikan vokasi seperti SMK dan Politeknik serta universitas. Upaya link and match tersebut dapat dilakukan melalui kerjama lembaga pendidikan dengan lembaga sertifikasi. Kerja tersebut berupa

kolaborasi dalam perumusan kurikulum yang terintegrasi agar setelah lulus, sdm tidak perlu lagi melakukan ujian sertifikasi.

  • Malang Creative Industry 4.0

Penembangan Malang Creative Industry 4.0 sejalan dengan Road Map Revolusi Industri khususnya di sektor industri makanan dan miniman serta textile dan pakaian. Sektor yang priotas dalam road map tersebut merupakan sub sektor dala industri kreatif yang pelakunya banyak dari usaha mikro, kecil dan menengah. Kota Malang sebagai salah satu Kota di Indonesia mulai fokus mengembangkan industri kreatif yang berasal dari UMKM. Tercatat dari 16 sub sektor, Kota Malang unggul di sub sektor kuliner, fesyen, dan kerajinan.(Mufli,2015). Konsep Malang Creative Industry 4.0 akan menciptakan kondusifitas kota bagi para pelaku indusri kreatif,komunitas, lembaga pemerintahan dan pendidikan serta investor untuk sharing knowledge, transfer technology, dan berkolaborasi dalam mengembangkan ekonomikreatif Kota Malang.

Langkah strategis dalam pengembangan Malang Creative Industry 4.0 akan dibangun klaster industri kreatif kota malang bertujuan untuk mengklasifikasikan setiap kecamatan agar menjadi center of excellence yang menghasilkan produk unggulan yang berdaya saing nasional dan internasional. Klaster tersebut tersebar di lima kecamatan Kota Malang yaitu : 1) Klaster Industri Kreatif Lowokwaru dengan fokus pengembangan kerajinan keramik dan gerabah; 2) Klaster Industri Kreatif Blimbing fokus pada pengembangan industri industri fesyen, industri sarung bantal dekorasi; 3) Klaster Industri Kreatif Sukun : industri kerajinan rotan, lampion, mebel;

  • Klaster Industri Kreatif Kedungkandang : industri kuliner kripik tempe, emping jagung, kripik buah dan sayur, dan aneka olahan makanan; 5) Klaster Industri Kreatif Klojen sebagai pusat pengembangan industri kerajinan Topeng Malangan.

Langkah berukutnya adalah: 1) membangun techo dan science park di Kota Malang ; 2) perencaan program pemerintah melalui serangkaian tahap pemberdayaan sdm yang dimulai dari mendorong masyarakat (khususnya ikm kreatif) untuk menemukan ide orisinil, memformulasikan ide tersebut melalui kerjasama dengan modal ventura, implementasi ide melalui tahap start up, tahap industrialisasi; 3)

suntikan dana langsung dan tidak langsung; 4) pembuatan platform untuk merancang road map pengembangan ekonomi kreatif; 5) membentuk sistem penilaian ekonomidan aset melalui Malang Creative Center dan sering mengadakan sharing pengalaman oleh perushaaan besar kepada ikm; 6) pencanangan project sinergitas ekonomi kreatif dan pariwisata Kota Malang dalam beberapa fokus pengembangan yaitu Beutiful Malang, Malang Wellcoming City, Quality Malang, Marketing Malang.

  • Malang Digital City 4.0

Tahun 2016 pemerintah Kota Malang mencanangkan untuk menjadi kota kreatif Indonesia yang khusus pada industri kreatif digital dan menjadi bagian dari UNESCO Creative City Network. Cita-cita Kota Malang untuk menjadi kota kreatifberbasis industri kreatif digital dapat diwujudkan melalui Malang Digital City 4.0. Imlementasi Malang Digital City 4.0 didukung oleh ekosistem digital yang mulai terbangun di Kota Malang ditandai dengan keberadaan empat co-working space yang tersebar di Kota Malang, yaitu EI Lab (Entrepreneurs and Innovation) dibawah naungan Fakultas Ilmu Administrasi UB, Ruang Perintis yang beralamat di Perumahan Griya Shanta (Jl Candi Sawentar) , Ngalup di Jalan Sudimorodan serta Malang Digital Lounge di Jl. Basuki Rachmad. Keberadaan co-working space mempertegas keseriusanPemerintah Kota Malang akan komitmen untuk menjadi kota kreatif berbasis industri kreatif digital. Co-working Co-working space menjadi wadah bagi startup enthusiast Kota Malang untuk saling bertukar informasi, membangun jejaring ataupun kerjasama startup serta untuk menyelenggarakan berbagai event startup yang mengundangpembicara nasional.

Selain co-working, Kota Malang juga memiliki komunitas startup lokal yaitu STASION yang dibentuk sebagai wadah untuk membangun sinergi antar startup enthusiast Kota Malang. Kota Malang secara tidak langsung akan menjelma menjadi“silicon valley” nya Jawa Timur dan bahkan untuk Indonesia Timur. Keberhasilan dan keberlangsungan program Gerakan Nasional 1.000 Startup Digital didukung oleh keunggulan kompetitif yang di miliki oleh Kota Malang. Sehingga upaya saat ini adalah bagaimana meningkatkan minat anak muda untuk berani bercita-cita menjadi founder ataupun co-founder dari sebuah startup.

KESIMPULAN

Making Malang City 4.0 merupakan gagasan untuk mendukung partisipasi aktifPemerintah Kota Malang dalam mendukung dan mewujudkan Road Map Revoluasi Industri 4.0 milik pemerintah pusat yang dikoordinir oleh Kementrian Perindustrian. Kota Malang dapat menjadi pilot project daerah yang siap menghadapi Revolusi Industri 4.0. Impelemntasi Making Malang City 4.0 didukung oleh faktor-faktor internal Kota Malang seperti kondisi demografi, geografis dan ekonomi. Langkah strategis dalam mewujudkan Making Malang City 4.0 adalah: 1) Malang Creative Industry 4.0: pengembangan industri kreatif berkelas dunia di Kota Malang; dan 2) Malang Digital City 4.0: pengembangan industri kreatif digital dan membangunekosistem digital yang kondusif untuk startup enthusiast Kota Malang.

DAFTAR PUSTAKA

Badan Pusat Staitistik Indonesia. 2018. Statitsik Indonesia 2017. BPS : Jakarta

Badan Perencanaan, Penelitian dan Pengembangan (Barenlitbang) Kota Malang2017. Profil Kota Malang. BARENLITBANG : Kota Malang

Kementrian Perindustrian RI. 2018. Making Indonesia 4.0: Strategi RI Masuki Revolusi Industri Ke-4. Diakses melalui http://www.kemenperin.go.idpadatanggal 08 Agustus 2018

Morrar, R, Husam A dan Saeed. 2017. The Fourth Industrial Revolution (Industry 4.0): A Social Innovation Perspective. Technology Innovation Management Review, vol 7(11): p. 12-14

Mufli,    M. 2015. Malang Economic Outlook: Analisis Potensi dan Strategi Pengembangan Ekonomi Kota Malang. East Java Economic Forum (EJACEC) 2015. Surabaya

Rifkin, J 2011. The Third Industrial Revolution: How Lateral Power Is Transforming

Energy, the Economy, and the World. Martin Press : New York .0pt;m�g�/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close