Nyawa-Nyawa Bumi

oleh

Nurussyamsil Hidayah

Ilmu Administrasi Negara

Menghadap pada atap-atap terbuka indah, sebuah biru muda yang cerah. Dan pada lumpur-lumpur coklat hitam gelap. Serta suara-suara renyah yang enggan membuat ragawi enyah, gemericik air.

Semilir menghembus lembut dedaunan, membuatnya semakin kompak merunduk menari indah gemulai yang terlihat selembut kapas-kapas; benar-benar hijau yang tergerak terkompakkan.

“Makanlah, agar kuat dan lekas menyelesaikan semua ini.”

“Kita lanjut besok saja.” sembari meletakkan cangkul dan membasuh kaki penuh lumpur pada segar, bening, serta jernihnya sungai.

“Tak ada yang tau kondisi hari esok.”

“Benda kotak milik Rara sangat handal meramal matahari.”

“Benda kotak? Handphone maksudmu, Pak?”

“Ah iya itu maksudku, Bu.”

“Kita selesaikan hari ini saja, Pak. Semakin cepat semakin banyak bulir-bulir padi yang terkumpul dan lekas berubah menjadi rupiah. Menundanya sama dengan menunda yang lainnya.”

“Baiklah.”

Kulit-kulit mengkerut mengkeriput kecoklatan dan wajah yang tak sesegar Rara; sang putri tunggal kesayangan yang diharapnya takkan menjadi sama seperti mereka sedang terduduk dan terpejam dibawah rindangnya pohon kelapa.

Rara tak takut jika kelapa tua tiba-tiba terjatuh menimpa kepala dengan rambut hitam pendek sebahunya. Rara hanya takut Bapak Ibunya semakin tua, semakin renta, dan belum sempat merasakan nikmatnya hidup. Seperti memakan daging dan udang besar tanpa perlu memikirkan bibit, pupuk, dan sisa angka pada rupiah.

***

“Rara mari makan bersama!!” Teriak sang Ibu.

Rara tersadar dari lamunan, angan, dan inginnya. Menghampiri sepasang cinta pertamanya. Semakin dekat semakin terlihat bungkusan bekal plastik, tergeletak pada pondok sawah dari kayu dan bambu.

Tempe, tahu, sambal, mie instan goreng ditemani Bapak dan Ibu. Sungguh lezat sekali; pikir Rara.

“Rara.”

“Iya, Pak?”

“Kelak kamu mau menjadi apa?”

Sang Bapak yang belum pernah menanyakan kemauan dan cita Rara tiba-tiba bertanya tentang hal yang tak pernah dia tanyakan.

Sebab dia memiliki keyakinan kepada anaknya; Rara telah cukup dewasa untuk menentukan sendiri hidupnya.

“Mau menjadi petani seperti Bapak dan Ibu.”

“Jangan menjadi seperti kami.”

“Kenapa, Bu?”

“Kami mau kamu berbeda Ra, itu sebabnya kami mendukung niatmu melanjutkan sekolah.”

“Mengapa menjadi seperti kalian adalah sebuah ketidakbolehan?”

“Mengapa kamu ingin menjadi seperti Bapak dan Ibu?” lanjut sang Bapak.

“Karena kalian adalah pahlawanku dan pahlawan pengisi perut para makhluk bumi.”

“Menjadi seperti kami tidak akan mewujudkan kesukaanmu memakan udang besar setiap hari.”

“Kenapa, Bu?”

“Di negeri ini, kalau kamu menjadi petani kecil seperti kita maka kamu tak boleh punya mimpi-mimpi besar.” sambung sang Bapak.

“Ah itu menurut Bapak saja.”

“Kamu akan menjadi orang yang buta pada kemajuan zaman jika tetap di desa ini Rara.”

“Kenapa begitu? Bu, aku tadi mendengar Ibu berkata bahwa tak akan ada yang tau kondisi hari esok, maka untuk hari-hari esok selanjutnya Ibu juga tak akan tau.”

“Aku rasa menjadi petani adalah hal yang indah. Membantu para nyawa-nyawa dibumi memperoleh energi untuk memulai aktivitas yang melelahkan. Aku yakin negeri ini tak akan sebodoh itu menelantarkan para pejuang seperti kita.” lanjut Rara.

Rara dari dulu selalu meyakini sesuatu yang tidak pernah diyakini kedua orangtuanya dan meragukan keyakinan yang diyakini orangtuanya tentang kemalangan nasib para pejuang agrarian; tentang nasib malang petani.

Katakanlah Rara sesosok idealis yang tak tahu caranya realistis. Dia yakin bahwa sebagaimana negerinya subur, indah, dan mempesona maka seyakin itu dia menjadi petani yang akan membantu memenuhi energi para nyawa-nyawa di bumi. Dia yakin pada negerinya, pada para petani, dan pada kemampuan dirinya.

IG : @nurussyamslh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close