Revolusi Energi dalam Problematika Revolusi Industri 4.0

disusun oleh Muhammad Luthfi Marwanto, Universitas Indonesia

Essay ini merupakan Juara 3 di Lomba National Online Essay Writing Competition 2018 yang diselenggarakan oleh BEM FISIP UNEJ

Istilah “Industri 4.0” pertama kali berasal dari sebuah proyek dalam strategi teknologi canggih pemerintah Jerman yang mengutamakan komputerisasi pabrik. Industri 4.0 adalah nama tren otomasi dan pertukaran data terkini dalam teknologi pabrik. Istilah ini mencakup sistem siber-fisik, Internet of Things (IOT), komputasi awan, dan komputasi kognitif. Konsep Industri 4.0 menghasilkan “pabrik cerdas” yang mengoptimalkan aspek-aspek teknologi sehingga membuat proses produksi lebih efektif. Singkatnya, revolusi industry 4.0 merupakan sistem yang mngintegrasikan dunia online dengan produksi industri.

Tercatat, sektor Industri telah melalui empat kali proses revolusi. Revolusi Industri pertama atau Industri 1.0 terjadi setelah ditemukannya mesin uap yang pada akhirnya digunakan pada industri manufaktur. Awal abad ke-18, produksi massal mulai menggunakan mesin bertenaga listrik dan akhirnya terjadi industry 2.0. selanjutnya, Industri 3.0 dimulai ketika diterapkannya teknologi informasi dan elektronika untuk otomasi produksi dan penerapan konsp kostumisasi industri. Saat ini, ketika dunia digital menjadi bagian dari kehidupan manusia dan Internet yang hampir merajai seluruh aspek elektronik lahirlah Industri 4.0.

Revolusi Industri 4.0 tidak hanya berpotensi luar biasa dalam merombak industri, tapi juga mengubah berbagai aspek kehidupan manusia. Bagi Indonesia, fenomena Industri 4.0 memberikan peluang untuk merevitalisasi sektor manufaktur Indonesia dan menjadi salah satu cara untuk mempercepat pencapaian visi Indonesia untuk menjadi 10 ekonomi terbesar di dunia. Hingga tahun 2016, industri manufaktur berkontribusi sebesar 20 persen PDB Indonesia dan membuka lebih dari 14 juta lapangan pekerjaan.

Dalam menghadapi hal tersebut, Kementrian Perindustrian menyusun roadmap “Making Indonesia 4.0”. Untuk menjalankan hal tersebut, pemerintah akan membangun 5 sektor manufaktur dengan daya saing regional yaitu, makanan dan minuman, tekstil, elektronik, otomotif dan kimia. Indonesia juga mendorong 10 prioritas nasional diantaranya adalah perbaikan alur aliran barang dan material, desain ulang zona industry, mengakomodasi standar keberlanjutan, memberdayakan UMKM, membangun Infrastruktur digital nasional, menarik

minat investasi asing, peningkatan kualitas SDM, pembangunan ekosistem inovasi, insentif untuk investasi teknologi, dan harmonisasi regulasi.

Selaras perkembangan Industri, sektor energi, khususnya dalam bidang kelistrikan, juga mengalami perubahan. Industri tentu memerlukan pasokan energi yang stabil agar dapat berkembang dengan baik. Total kebutuhan energi final untuk sektor industri dari keseluruhan bauran energi masing-masing sebesar 118,4 MTOE (47,7%) untuk tahun 2025 dan 293.2 MTOE (45.7%) pada tahun 2050 dengan rincian sebagai berikut.

Gambar 1 : Total Kebutuhan Energi final untuk sektor industri

Dari tabel tersebut terlihat bahwa tiap tahunnya kebutuhan energi di sektor industri memiliki peningkatan kebutuhan yang signifikan. Di sisi lain, terdapat berbagai permasalahan seperti berikut :

  1. Kebutuhan energi di sektor lain seperti rumah tangga, komersil dan lain-lain juga tinggi.
  • Energi non-terbarukan terbatas.
  • Pembangkit untuk supplai listrik terbatas dan masih di dominasi oleh pembangkit non-terbarukan

Meskipun sumber migas diprioritaskan untuk sektor industri, sektor lainnya tetap mengalami perningkatan kebutuhan energi. Permasalahannya, apakah Indonesia tetap bisa menjadi 10 besar kekuatan ekonomi dunia jika mempunyai masalah kepada pemenuhan energi.

Listrik merupakan kebutuhan yang diperlukan hampir diseluruh sektor seperti industri, komersil, dan rumah tangga. Kehadiran listrik merupakan hal paling vital dalam Revolusi Industri 4.0 yang notabennya mengandalkan sistem digital. Sejauh ini, Pembangkit listrik yang terpasang sejumlah 41.133,73 MW dan sebagian besar didominasi oleh PLTU batu bara dengan jumlah terpasang 16.779,00 MW. Sementara itu, Pembangkit Listrik Terbarukan belom dimaksimalkan seluruhnya, dari total 443.208 MW hanya 1.9% yang baru dimanfaatkan dengan rincian sebagai berikut

Gambar 2 : Potensi EBT di Indonesia

Mesikpun memiliki potensi yang besar, lebih ramah lingkungan, dan dapat diperbaharui, tetapi pembangunan pembangkit listrik tenaga batubara masih terus diprioritaskan. Pada 2026 ditargetkan penambahan 77.9 GW dengan 31.9 GW merupakan PLTU dengan lebih dari 50% merupakan batubara.

Gambar 3 : Proyeksi Bauran Energi

Sama seperti sektor Manufaktur, sektor tenaga listrik juga memiliki revolusinya sendiri. Revolusi pertama atau dikenal Listrik 1.0 berawal ketika ditemukannya lampu listrik oleh Thomas Alva Edison. Perusahaannya mengoperasikan generator arus searah berbahan bakar batubara dan memulai dengan 82 pelanggan untuk menyalakan 400 lampu listrik. Selanjutnya, teknologi listrik dengan arus bolak balik atau AC (Alternating Current) dioperasikan di Roma, Italia, dan digunakan untuk penerangan publik. Singkatnya, konsep listrik 1.0 adalah dimana hanya pelanggan-pelanggan lokal yang di tempat tinggalnya terdapat perusahaan listriklah yang bisa mendapatkan listrik.

Listrik 2.0 muncul ketika Nikola Tesla membangun teknologi listrik berbasis arus bolak-balik (AC) dan pada saat bersamaan berkembang transformator (trafo) yang memungkinkan listrik arus bolak-balik dinaikkan (step-up) atau diturunkan (step-down) tegangannya dengan relatif mudah dan efisien, jaringan listrik menjadi lebih praktis dan efisien untuk disalurkan ke sejumlah wilayah yang sangat luas. Fleksibilitas tegangan listrik arus bolak-balik inilah yang kemudian menyebabkan perusahaan-perusahaan listrik antardaerah kemudian dapat saling berhubungan dengan relatif mudah dan membentuk satu jaringan listrik yang besar (interkoneksi)

Ketika dampak lingkungan terjadi akibat penggunaan bahan bakar batubara, muncullah konsep listrik 3.0 ketika jaringan listrik yang terinterkoneksi mengadopsi pembangkit listrik tenaga bayu dan tenaga surya berskala besar dengan karakter intermitennya.

Energi surya merupakan salah satu energi terbarukan paling potensial. Namun, untuk mengkonversi energi surya menjadi listrik, diperlukan lahan yang cukup untuk meletakkan panel-panel surya tersebut di lokasi yang terekspos oleh sinar matahari. Elon Musk memperkenalkan teknologi genting yang terintegrasi dengan panel surya dengan harga yang lebih murah daripada genting dan panel surya yang dibeli terpisah. Dengan demikian, panel surya yang fleksibel dapat dengan mudah dipasang di bangunan-bangunan dapat membangkitkan potensi tersebut

sehingga setiap konsumen bukan hanya menjadi konsumen, tapi juga dapat menjadi produsen dalam energi listrik. Konsep inilah yang menjadi dasar dari listrik 4.0. Selanjutnya, Melalui aplikasi digital di perangkat smartphone, pelanggan mampu memonitor setiap saat produksi listrik dan penggunaan listriknya, yang kemudian akan men-trigger perilaku penggunaan listrik yang hemat dan efisien, sebagaimana pengguna sarana komunikasi telepon seluler yang memonitor penggunaan pulsa teleponnya setiap diperlukan.

Gambar 4 : Konsep Listrik 4.0

Jika berkaca kepada konsep revolusi listrik, posisi energi listrik diindonesia berada di sekitar listrik 2.0 dan menuju listrik 3.0. Indonesia masih terlalu memanfaatkan energi tak terbarukan seperti batu bara. Subsidi energi belum tepat sasaran. Sehingga harga EBT kalah saing dengan Energi non-terbarukan. Dalam 12 tahun terakhir sejak tahun 2004 hingga tahun 2015, subsidi energi mencapai Rp. 2.182 triliun dengan subsidi listrik rata-rata 100 triliun pertahun sejak 5 tahun terakhir. di Indonesia, belum ada kejelasan siapa yang ditugaskan untuk mengembangkan energi terbarukan. Selain itu, belum banyak yang paham mengenai energi terbarukan di dalam organisasi PLN

Perkembangan energi terbarukan di Eropa terus meningkat dengan adanya komitmen-komitmen dari negara-negara EU. Di Eropa, energi angin merupakan teknologi yang perkembangannya sangat pesat dalam memenuhi energi listrik.

Saat ini 12.5 GW listrik dihasilkan oleh turbin angin yang telah terinstall pada tahun 2016 dengan kapasitas total dapat mencapai 153.7 GW. Energi angin menduduki posisi terbesar kedua di Eropa dalam pembangkit listrik menggantikan posisi batu bara. Tahun 2016, listrik yang dihasilkan dari energi terbarukan di Eropa mencapai 86%. Terjadi peningkatan porsi kapasitas energi yang dapat dihasilkan oleh energi terbarukan dari 24% di tahun 2005 menjadi 46% di tahun 2016. Saat ini, total porsi energi terbarukan di Eropa sebesar 16%.

Sementara di United Kingdom (UK), pengembangan ke arah energi terbarukan dipicu oleh perubahan iklim yang terjadi di dunia dan komitmen yang dibangun saat Paris Agreement. Konsumsi energi di UK paling banyak digunakan untuk transportasi dan kebutuhan rumah tangga. Dalam pembangkit listrik, kontribusi energi terbarukan hingga 22.2% melebihi minyak bumi (2.9%) dan batubara (9.3%). Energi angin menyumbang paling banyak (11.4%) dengan turbin angin di darat 4.8% dan di laut sebanyak 6.6%. Disusul oleh bioenergi, solar pv lalu energi air. Sementara itu, India menargetkan 40.000 MW kapasitas listrik akan terpasang di 2022 dalam bentuk panel surya atap bangunan (rooftop photovoltaic).

Dalam menghadapi Revolusi Industri 4.0, seharusnya pemerintah menyiapkan perencanaan pada sektor selain manufaktur seperti energi. Pertama, pemerintah perlu membuat kebijakan yang mengatur pembatasan energi tak terbarukan dan badan yang mengurus pengembangan energi terbarukan harus segera dibentuk agar potensi yang ada dapat dimaksimalkan. Industri juga harus berperan dalam hal ini dengan cara membuat sendiri sumber energi terbarukan untuk memenuhi kebutuhan energinya. Dengan begitu, energi yang harus dialokasikan berkurang, import BBM akan dikurangi, APBN akan berhemat.

Daftar Pustaka

Perkembangan Energi Terbarukan di Eropa dan Asia Tenggara. (2017, July 31).Retrieved from i-care Indonesia: https://icare-indonesia.org/perkembangan-energi-terbarukan-di-eropa-dan-asia-tenggara/

Making Indonesia 4.0. (n.d.). Kementrian Perindustrian.

Reza, M. (2014, April 16). Inovasi Disruptif Listrik 4.0.

PERATURAN PRESlDEN REPUBLlK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2017 TENTANG RENCANA UMUM ENERGI NASIONAL

Keputusan Menteri ESDM Republik Indonesia Nomor 5899 K/20/MEM/2016

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close