REVOLUSI INDUSTRI 4.0 : Perspektif Ekonomi Digital Terhadap Kontribusi Pertumbuhan Ekonomi dalam Mewujudkan The Largers Digital Economy of Asia ditengah Era Disrupsi


disusun oleh PURBO BUDI AJI RAHARJO, Universitas Airlangga


Essay ini merupakan Juara 1 di Lomba National Online Essay Writing Competition 2018 yang diselenggarakan oleh BEM FISIP UNEJ

“Revolusi industri 4.0 merupakan sebuah peluang besar yang harus disiapkan dan direncanakan oleh Indonesia. Perubahan-perubahan dalam revolusi industri 4.0 harus dimengerti, dipahami dan diantisipasi agar bisa memberi peluang besar bagi pembangunan Indonesia ke era baru, yaitu aspirasi besar untuk revitalisasi industri Indonesia secara menyeluruh”

–Joko Widodo, Presiden Indonesia–

PENDAHULUAN

Era digital saat ini mulai berkembang menjadi fenomena yang menarik untuk dibahas karena semua kehidupan masyarakat mulai bergantung terhadap teknologi. Berawal dari revolusi industri 1.0 yang terjadi pada pertengahan abad ke-18 yang ditandai dengan penemuan mesin uap oleh James Watt. Pekerjaan yang semula dikerjakan oleh tenaga kerja manusia kemudian digantikan oleh mesin uap dalam menunjang proses produksi. Industrialisasi mulai berkembang pesat setelah ditemukannya energi listrik yang menandai lahirnya revolusi industri 1.0, produksi barang kebutuhan masyarakat dapat diproduksi dan didistribusikan ke berbagai wilayah secara lebih masif.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat pada tahun 1969 menjadi pertanda munculnya revolusi industri 3.0 yang menggunakan kekuatan elektronik dan teknologi informasi dalam menunjang otomatisasi proses produksi. Dunia pun mengalami kemajuan akibat revolusi digital, karena dalam periode revolusi industri 3.0 ini dunia memperoleh internet dan interkonektivitas yang begitu cepat sehingga memungkinkan untuk menjelajahi dunia maya dan melihat berbagai sumber informasi suatu organisasi dengan jumlah besar atau disebut sebagai big data. Paradigma industri baru pun muncul dengan ditandainya perluasaan penggunaan teknologi informasi di setiap rantai pasok yang memengaruhi aktivitas bisnis. Ada yang beranggapan bahwa perubahan tersebut menghasilkan terobosan yang lebih besar di era industri baru. Mereka menyebutnya sebagai revolusi industri 4.0 yang merupakan era transformasi digital dimana suatu teknologi memberikan keefisienan dalam melakukan segala aktivitas kehidupan yang berhubungan dengan ekonomi.

Industrialisasi ini didasarkan pada produktivitas yaitu dengan cara menggabungkan jaringan digital terhadap rantai pasok. Meskipun kemajuan teknologi secara fundamental tidak memberikan perubahan yang disruptive, namun hal ini berpengaruh terhadap konsep produksi, distribusi, dan khususnya bagaimana suatu perusahaan menghasilkan nilai tambah. Inilah sistem revolusi industri, tidak mudah untuk memastikan bahwa suatu peristiwa disebabkan dan dipengaruhi oleh fenomena lain.

Teknologi informasi yang semakin mudah untuk diakses menyebabkan semua orang dapat terhubung dalam jaringan sosial. Dengan sumber informasi yang melimpah hal ini justru menjadi potensi yang wajib untuk dikembangkan karena memberikan manfaat yang besar bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Munculnya berbagai inovasi mengakibatkan perubahan dengan ruang lingkup yang lebih luas pada semua sistem yang terjadi di setiap bidang industri. Sehingga hal ini mampu memberdayakan individu dan masyarakat dengan menciptakan peluang baru bagi ekonomi. Kondisi seperti inilah yang harus diterapkan oleh setiap negara apabila menginginkan tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi, terutama Indonesia yang memiliki jumlah populasi mencapai 161 juta orang menjadi asset yang berharga dalam mewujudkan era ekonomi digital.

ISI

Ekonomi digital lahir dan berkembang seiring dengan penggunaan teknologi yang semakin mengglobal, yang mana merupakan hasil transformasi dari teknologi informasi dan komunikasi yang telah berdampak pada semua sektor ekonomi dan sosial. Dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, ekonomi digital mampu untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di setiap negara di dunia. Menurut Liu (1001) secara umum ekonomi digital adalah jenis ekonomi yang berbasis pada teknologi informasi dan komunikasi (Information and Communication Technology) dengan mempertimbangkan sirkulasi dan perkembangan industri dalam arus informasi digital yaitu internet dan perdagangan online. Sumber data informasi digital menjadi peran utama kunci produksi dalam meningkatkan pertumbuhan produktivitas dan optimalisasi struktur ekonomi. Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Van Ark et al

(1014) menunjukkan bahwa pada tahun 1995-1007 pasar tenaga kerja mengalami pertumbuhan sebesar 74% di Amerika Serikat dan 60% di Uni Eropa, sebagai akibat dari investasi di sektor teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Hal ini menunjukkan bahwa teknologi informasi dan komunikasi menjadi fokus utama dalam menopang dan mengendalikan perkembangan ekonomi digital.

Internet sejatinya merupakan infrastruktur yang menjadi pilar pembangunan ekonomi digital karena dapat memberdayakan masyarakat untuk menciptakan dan membagikan ide, memberikan konten baru pada pengusaha (entrepreneurs) dan pasar (market). Tanpa kita sadari teknologi informasi dan komunikasi memberikankeuntungan terhadap sosial ekonomi yang diperoleh melalui internet. Menurut analisis ekonometrik yang dilakukan oleh bank dunia terhadap 110 negara, ketika broadband meningkat sebesar 10% hal ini akan menyebabkan pertumbuhan sebesar 1,38% terhadap ekonomi. Jika penggunaan terhadap broadband meningkat hal ini menyebabkan produktivitas manufaktur dan industri jasa mengalami pertumbuhan yang cukup besar, dimana akan menimbulkan pengaruh yang signifikan terhadap pembangunan ekonomi (World Bank, 1009; He, 1016).

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada tahun 1017 dari total jumlah penduduk Indonesia yang mencapai sekitar 161 juta orang penetrasi pengguna internet sebesar 143,16 juta orang, jumlah ini mengalami peningkatan dibandingkan pada tahun 1016 yang tercatat mencapai 131,7 juta orang pengguna internet. Hasil survei juga menunjukkan bahwa setiap tahun jumlah pengguna internet mengalami peningkatan secara signifikan. Hal ini mengindikasikan bahwa internet telah merambah dalam aspek kehidupan sosial ekonomi manusia sebagai akibat dari kebutuhan hidup yang semakin kompleks. Namun, yang menjadi permasalahan sebenarnya adalah bagaimana masyarakat Indonesia memanfaatkan internet sebagai hal yang dapat meningkatkan taraf hidup perekonomian mereka. Data dari APJII menunjukkan bahwa pemanfaatan internet di bidang ekonomi masih belum maksimal, sebesar 16,83% internet dimanfaatkan untuk kegiatan jual online atau biasa disebut e-commerce sedangkan presentase tertinggi digunakan untuk mencari harga yaitu sebesar 45,14%. Presentase ini sangatlah kecil

melihat potensi dan peluang yang cukup besar di era digital apabila kita memanfaatkan internet dalam bidang ekonomi.

Pertumbuhan ekonomi yang menjadi garda terdepan kemajuan suatu negara merupakan suatu primadona untuk bisa bersaing di pasar global (global market). Gelombang ekonomi digital yang hadir dengan mendatangkan ekualitas peluang yang inklusif menjadi tantangan bagi industri untuk terus menghasilkan inovasi baru. Bukan hanya bagi industrial saja, para pelaku startup juga harus mampu bersaing dengan cara melakukan kolaborasi dan sinergi. Karena ekonomi digital merupakan sharing economy yang mengangkat banyak usaha kecil dan menengah untuk memasuki duniabisnis. Ekonomi digital dipercaya akan mampu menjawab tantangan pembangunan perekonomian dalam negeri yang masih belum stabil. Disisi lain peran masyarakat Indonesia yang sudah mengenal teknologi sangatlah dibutuhkan untuk melakukan revolusi industri berupa digital ekonomi sehingga hal ini dapat membantu untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia selama tahun 1017 tercatat mengalami pertumbuhan mencapai 5,07% namun angka ini lebih rendah dari target yang dipasang pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yakni 5,1%. Angka pertumbuhan ekonomi pada tahun 1017 merupakan yang tertinggi sejak tiga tahun terakhir, pada tahun 1014 pertumbuhan ekonomi mencapai sebesar 5,01%, tahun 1015 sebesar 4,88%, dan tahun 1016 sebesar 5,03%. Meskipun target pertumbuhan ekonomi 1017 tidak tercapai, perekonomian diprediksi masih akan mampu tumbuh secara optimal di periode yang akan datang melihat masih terdapat sektor potensial yang belum dikelola dengan baik. Salah satu sektor yang dipercaya mampu memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi tersebut adalah ekonomi digital. Alhasil, dari sisi produksi yaitu sektor informasi dan komunikasi mampu berkontribusi sebesar 5% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dengan mengalami pertumbuhan sebesar 9,81% dari tahun sebelumnya. Menggeliatnya bisnis digital seperti munculnya e-commerce menjadi salah satu pemicu pertumbuhan ekonomi, kebutuhan dasar yangsemula hanya dalam transaksi konvensional kini sudah dapat dilakukan dalam bentuk perdagangan digital.

Berbagai tantangan dan hambatan akan muncul di tengah era digital yang lebih dikenal sebagai disruptive era, munculnya inovasi baru memang memberikan impuls positif terhadap perkembangan bisnis. Namun secara tidak langsung hal ini memberikan dampak disrupsi atau perubahan fundamental kehidupan masyarakat.. Menurut Prof Clayton M. Christensen yang memperkenalkan Teori Disruptive Innovation, menjelaskan bahwa fenomena dimana sebuah inovasi mengubah pasar atau sektor yang ada dengan memperkenalkan kesederhanaan, kenyamanan, aksesibilitas dan keterjangkauan (simplicity, convenience, accessibility, and affordability) dimana komplikasi atau keruwetan dan biaya tinggi berada di posisi status quo.

Disrupsi terjadi ketika sebuah inovasi yang menggangu terbentuk di pasar terbatas (niche market) yang tampak tidak menarik bagi industri yang sudah berkembang pesat, namun pada akhirnya produk atau ide baru tersebut sepenuhnya menguasai pasar industri. Seperti yang diungkapkan oleh CEO dari Nokia yaitu Steve Ballmer pada pidato terakhirnya, “We Didn’t Do Anything, But Somehow We Lost” hal tersebut terjadi dikarenakan Nokia sebagai pemain lama kurang mampu memanfaatkan momentum dengan melakukan inovasi dan mengikuti apa yang menjadi kebutuhan pasar. Hal inilah yang sering terjadi pada incumbent ketika mereka merasa sudah memimpin industri seringkali ego dan kepercayaan diri yang terlampau besar menutup mata terhadap inovasi, saat kondisi mulai tidak ideal bagi mereka maka dengan kekuatan yang dimiliki disruptor secara perlahan mulai menggantikan posisi incumbent sebagai penguasa pasar.

Memang sulit untuk menentukan kapan sebenarnya suatu disruptive innovation terjadi. Munculnya pendatang baru dengan memperkenalkan teknologi yang lebih murah dan efisien dianggap menjadi penyebab terjadinya inovasi yang menggangu. Meskipun begitu, kegiatan pembaharuan oleh para pengusaha akan menimbulkan efisiensi (Oakey, 1015). Dengan adanya proses inovasi akan membuka kesempatan kerja baru bagi banyak orang untuk masuk dalam pasar tenaga kerja yang lebih baik, sehingga hal ini dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Menurut Gubernur Bank Indonesia ekonomi digital dapat membantu efisiensi ekonomi dan sumber daya manusia yang diprediksi dapat menjadi penyumbang

Produksi Domestik Bruto (PDB) sebesar 10% pada tahun 1015. Untuk itu perlu adanya strategi dan upaya yang harus dilakukan untuk menciptakan ekosistem ekonomi digital yang inklusif yang berdampak positif pada perekonomian secara keseluruhan. Untuk mewujudkan impian Indonesia menjadi The Largest Digital Economy of Asia tidaklah mudah, dibutuhkan strategi yang tepat untuk membangun industri digital yang dapat bertahan sesuai dengan tuntutan zaman. Ekonomi digital memang sudah tidak asing bagi kita karena segala aspek kehidupan sudah berubah ke ranah digitalisasi. Making Indonesia 4.0 merupakan salah satu strategi yang dilakukan untuk mewujudkan impian tersebut, dengan membuka peta jalan (roadmap) yang dapat memberikan akses berbagai macam sektor bisnis untuk masuk, bergabung dan memperkuat fondasi ekonomi digital. Lalu langkah apa saja yang harus kita lakukan?

Penyediaan sumber daya yang mendukung menjadi prioritas yang harus diperhatikan, tentu saja apabila kita ingin menjadi raja e-commerce dibutuhkan koneksi internet yang baik. Melihat masih terdapat beberapa daerah di Indonesia yang memiliki koneksi internet kurang baik, hal ini ditunjukkan bahwa sekitar 118,74 juta orang di Indonesia masih belum maksimal dalam menggunakan internet. Distribusi sumber daya yang merata menjadi langkah yang tepat agar setiap daerah di Indonesia merasakan hal yang sama dengan daerah yang sudah mengalami kemajuan. Sehingga hal ini diharapkan mampu mendorong potensi dari setiap daerah yang belum tergali melalui penggunaan internet sebagai media dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Saat ini bisnis digital di Indonesia telah mengalami perkembangan yang cukup pesat, untuk mengembangkan ekonomi digital perlu adanya perluasan pasar agar produk Indonesia dapat dikenal oleh masyarakat dunia. Namun, banyak startup yang berpandangan bahwa ekspansi ke pasar internasional masih terlalu dini untuk dilakukan melihat kondisi mereka yang masih mematangkan pasar lokal. Tren seperti inilah yang menjadikan pelaku startup berada cukup lama dalam kondisi stuck di lingkup bisnis pasar lokal, karena mereka kurang berani untuk bersaing dengan cara keluar dari zona nyaman. Untuk itu strategi yang dapat dilakukan adalah dengan menerapkan Global Market Entry Strategy (Global Strategic Management, 1011) yaitu

strategi yang dilakukan untuk memasarkan produk dan jasa dengan memasuki segmen pasar yang dijadikan pasar sasaran penjualan dengan cara melakukan joint venture, franchising, exporting, licensing, foreign direct investment. Dengan menjalin kerjasama dengan perusahaan perdagangan terbesar seperti Alibaba Corporation Group diyakini menjadi kunci untuk mengejar ketertinggalan sekaligus menjadi pengembangan awal bagi startup untuk lebih percaya diri dalam bersaing di pasar global.

Selain itu diperlukan adanya regulasi yang kuat dan mumpuni, dalam artian regulasi yang dapat mengatur perkembangan industri ekonomi digital. Munculnya berbagai inovasi dalam ekonomi digital memang menjadi suatu kebanggan, namun perlu kita garis bawahi menciptakan kondisi ekonomi digital yang lebih inklusif menjadi misi yang penting untuk dilakukan, jangan sampai munculnya inovasi baru justru menciptakan disruptive innovation. Indonesia sendiri telah memiliki sebuah regulasi yang mengatur e-commerce yaitu Perpres No. 74 tahun 1017 Roadmap E-commerce 1017-1019 yang berisi tentang pendanaan, perpajakan, perlindungankonsumen, sumber daya manusia, infrastruktur dan keamanan cyber. Genre baru di dunia ekonomi adalah sebuah peluang dan tantangan bagi kita untuk bisa menjadi pusat ekonomi digital di Asia, dengan adanya roadmap ini, diharapkan dapat mempercepat perkembangan perdagangan digital yang berdaya saing dan dapat memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.

PENUTUP

Revolusi industri saat ini telah memasuki era keempat, dimana perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah berkembang sangat pesat dan memberikan dampak terhadap kehidupan manusia. Teknologi informasi dan komunikasi menjadi kunci utama bagi semua sektor dalam mengembangkan bisnis mereka. Penggunaan teknologi yang semakin mengglobal melahirkan sebuah persepektif baru yang disebut ekonomi digital. Dengan adanya inovasi baru dalam ekonomi, dipercaya akan mampu menjawab tantangan dan peluang pembangunan Indonesia ke era baru, yaitu aspirasi besar untuk revitalisasi industri Indonesia secara menyeluruh.

DAFTAR PUSTAKA

Cristina Klingenberg. 1017. Industry 4.0: What Makes it a Revolution?. Universidade

do Vale do Rio dos Sinos: Brazil.

European Commission. 1014. Working Paper: Digital Economy Fact and Figure.

Brussels: Belgium.

GUO,      Shuyong, DING, Weihang. Digital Economy in International Society Transformation and G10 Governance.

Hamid, E. S. 1017. Disruptive Inovation: Manfaat dan Kekurangan Dalam Konteks

Pembangunan Digital. Universitas Islam Indonesia: Yogyakarta.

Wirabrata, A. 1016. Prospek Ekonomi Digital Bagi Peningkatan Pertumbuhan Ekonomi. Vol. VIII, No. 17/I/P3DI/September/1016. (Artikel)

Kominfo. 1017. Studi Ekonomi Digital Di Indonesia Sebagai Pendorong Utama Pembentukan Industri Digital Masa Depan. Badan Penelitian danPengembangan SDM, Kementrian Komunikasi dan Informatika.

Revolusi  Industri 4.0 Peluang atau Ancaman? Ini Kata Jokowi. https://finance.detik.com/industri/d-3951680/revolusi-industri-40-peluang-atau-ancaman-ini-kata-jokowi, diakses 6 Juli 1018.

Jadikan    Ekonomi Digital Solusi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia. https://www.goodnewsfromindonesia.id/1018/01/11/jadikan-ekonomi-digital-solusi-pertumbuhan-ekonomi-indonesia, diakses 6 Juli 1018.

Lima Sektor Yang Menjadi Fokus di Era Digital. https://finance.detik.com/industri/d-3951581/ini-5-sektor-industri-yang-jadi-fokus-jokowi-di-era-digital. diakses 6 Juli 1018.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close