SEKILAS PERTANYAAN

oleh

KASTRAT BEM FISIP KABINET TARACHANDRA

30 September selalu menjadi masa kelam di sejarah Indonesia. Bagaimana tidak, sedikitnya ada 500.000 jiwa rakyat yang ditumpas karena dikira komunis atau simpatisan Partai Komunis Indonesia. Komando Angkatan Darat selepas menerima laporan 6 perwira tingginya dibunuh dan dibuang di Lubang Buaya dengan cepat dan cermat mengacungkan jari kepada PKI; dengan alasan percobaan coup d’etat terhadap pemerintahan Sukarno dan ingin mendirikan pemerintahan komite baru, para anggota partai dan pendukungnya dicap sebagai dalang dari pembunuhan para perwira tersebut.

Melalui Surat Perintah Sebelas Maret, Letnan Jenderal Suharto dengan mandat dari Presiden Sukarno, diperbolehkan “mengambil segala tindakan yang dianggap perlu” untuk mengembalikan ketertiban dan keamanan; dan segala setiap tindakan pun diambil oleh Suharto.

Pembantaian anggota partai, simpatisan, petani, hingga rakyat secara sistematis dilakukan oleh tentara, terutama Angkatan Darat dan KOSTRAD. Propaganda ketakutan digaungkan oleh Suharto yang membuat para warga menumbuhkan curiga terhadap bapak ibunya sendiri. Dijalan-jalan kecil pedesaan dan perumahan berkeliling sekelompok militia yang bertugas memburu terduga simpatisan PKI dan anggota partainya. Partai Komunis yang identik dengan para buruh dan petani membikin para rakyat Marhaen tersebut sasaran utama para tentara, hingga keluarga mereka pun tak bisa tenang seumur hidupnya. Setengah juta jiwa dan darah rakyat Indonesia ditumpahkan pada periode gelap tersebut. Pembantaian PKI menjadi penumpahan darah terbesar dalam sejarah Indonesia.

Tak lupa, Suharto juga menggunakan pembantaian tersebut untuk menghilangkan musuh-musuh politiknya. Dikarenakan jarangnya jurnalis asing yang ada di Indonesia saat itu, jurnalis lokal yang pernah mencoba mengkritisi tindakan tentara menjadi korban. Ketakutan terhadap Komunisme berubah menjadi ketakutan melawan Suharto, dan ketakutan tersebut yang melicinkan jalur Jenderal untuk lupa berdiri dari tahta presidennya selama 32 tahun. Selama itu juga hantu komunisme selalu menjadi justifikasi penghilangan aktivis-aktivis dan jurnalis-jurnalis anti-pemerintah.

Namun pertanyaan yang paling mendasar belum terjawab, siapakah sebenarnya tangan yang menggorok tenggorokan para perwira TNI tersebut? Apakah setengah juta jiwa tumpah darah Indonesia seimbang beratnya dengan 7 perwira tinggi tentara? Bila PKI merupakan dalang utamanya, bagaimana mereka dapat menyusupi Tjakrabirawa, satuan elit pengawal presiden? Dan bila Tjakrabirawa menjadi elemen yang ikut dalam G/30/S, mengapa mereka gagal membawa Presiden ke Halim? Apakah elemen yang ikut Gerakan bukanlah Tjakrabirawa sebenarnya? Apakah setengah juta jiwa tumpah darah Indonesia seimbang beratnya dengan 7 perwira tinggi tentara?

Pertanyaan-pertanyaan ini tidak pernah dijawab oleh Angkatan Darat, namun melalui penumpasan setelahnya, mereka secara implisit menjawabnya, “Ya, G/30/S merupakan serangkaian kejadian yang direncanakan oleh PKI”.

Secara moral dan etis, penumpasan apapun tidak bisa dibenarkan dengan alasan apapun. Keajaiban kehidupan dan sakralnya kematian bukan milik siapapun untuk diambil. Bila dalam semangat keadilan pun, statistik mesti bertanya kembali; sejak kapan 500.000 sebanding dengan tujuh? Mata boleh saja kau balas dengan mata, namun bila mata kau balas dengan serampang peluru senapan serbu perlu dipertanyakan pula apa maksud dibaliknya.

Secara legal pun keluarnya SUPERSEMAR dikelilingi kontroversi. Dalam biografinya, M. Jusuf, salah satu perwira yang mendatangi Sukarno untuk menjemput SUPERSEMAR, menyebutkan bahwa satu anggota rombongan yang mendatangi Sukarno menhunuskan pistol ke kepala Presiden, memaksanya untuk menandatangani surat perintah tersebut. Banyaknya versi SUPERSEMAR yang ada juga membawa curiga terhadap keaslian dokumen yang ditandatangani Presiden.

Bangunnya Orde Baru penuh kontroversi dan curiga, dan rezim yang bermula dari pembantaian menjadi lazim dimata warga yang penuh ketakutan. Kita pun sampai saat ini masih lempeng-lempeng saja terhadap fakta (atau tiadanya fakta) sejarah pada saat itu, malah menerima saja saat hantu komunisme dihidupkan kembali. Sadar tidak sadar kita tetap diam membantu melanggengkan usaha untuk membangkitkan masa kelam tersebut.

Patung telah berdiri, kuburan massal telah dipendam, tangis keluarga korban pun telah dibungkam. Kita sebagai penerus bangsa dan pengemban cita-cita Indonesia apakah akan tetap lupa terhadap peristiwa tersebut dan tetap hidup damai diatas tanah berlimang darah?

Revolusi belum selesai, kawan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close